AKARMERDEKA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah makin berbahaya. Kali ini Rusia ikut terseret setelah fasilitas diplomatiknya di Iran terdampak serangan yang diduga terkait operasi militer Israel dalam konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat.
Moskow langsung bereaksi keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menegaskan serangan yang mengenai kompleks Konsulat Rusia di Iran merupakan pelanggaran serius hukum internasional.
Rusia menuding tindakan tersebut sebagai bagian dari agresi Israel yang didukung Amerika Serikat.
Baca Juga: Iran Menang Perang? Media AS Laporkan Militer Paman Sam Keteteran Hadapi Teheran
“Serangan terhadap perwakilan diplomatik merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap konvensi internasional,” tegas Zakharova.
Insiden terjadi di wilayah Isfahan, Iran. Menurut keterangan pemerintah Rusia, target utama serangan sebenarnya adalah kantor administrasi gubernur provinsi yang berada tidak jauh dari kompleks konsulat.
Namun dampak ledakan ikut menghantam fasilitas diplomatik Rusia.
Beberapa jendela gedung kantor konsulat dan apartemen staf dilaporkan pecah. Gelombang kejut dari ledakan bahkan sempat mendorong sejumlah pegawai di dalam kompleks.
Meski begitu, Rusia menyatakan tidak ada korban jiwa maupun luka serius dalam insiden tersebut. Bagi Moskow, fakta bahwa fasilitas diplomatik ikut terdampak sudah cukup menjadi alarm keras.
AS marah Rusia bantua Iran
Di saat bersamaan, Washington justru meningkatkan tekanan terhadap Rusia.
Gedung Putih menyampaikan peringatan bahwa Presiden AS, Donald Trump, tidak akan “senang” jika Moskow benar-benar membagikan intelijen militer kepada Iran di tengah perang regional.
Pernyataan itu muncul setelah laporan media menyebut Rusia diduga memberikan informasi sensitif kepada Teheran, termasuk posisi kapal perang dan pesawat Amerika di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Taipan Dubai Murka, Negara-negara Teluk Mulai Keluhkan Perang AS-Israle vs Iran
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan Washington sudah mengirim pesan langsung ke Rusia.
“Presiden dan utusan khususnya telah menyampaikan kepada Rusia bahwa jika itu terjadi, tentu itu bukan sesuatu yang mereka sukai,” katanya.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, bahkan mencoba meredam spekulasi dengan mengatakan Rusia harus dipercaya ketika membantah tuduhan tersebut.
“Saya bukan petugas intelijen. Tapi Rusia mengatakan mereka tidak berbagi. Kita bisa mempercayai perkataan mereka,” ujarnya.
Moskow-Teheran semakin erat
Hubungan Moskow dan Teheran memang makin erat. Kedua negara bahkan telah menandatangani kesepakatan kerja sama untuk saling membantu menghadapi “ancaman bersama”.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, juga disebut telah membahas situasi konflik dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Kremlin menyerukan penghentian permusuhan dan mendorong penyelesaian lewat jalur diplomasi.
Namun di lapangan, situasinya bergerak ke arah sebaliknya.
Serangan yang ikut merusak konsulat Rusia menunjukkan satu hal: konflik Timur Tengah kini bukan lagi sekadar perang regional. Ia perlahan berubah menjadi arena tarik-menarik kekuatan besar dunia. (*)

