BBM Subsidi Disorot, Jangan Sampai Salah Arah Lagi

Nugroho Purbohandoyo
4 Min Read
ilustrasi jalur BBM Subsidi.

AKARMERDEKA, JAKARTA – Situasi global yang lagi panas bikin urusan energi ikut goyah. Konflik di kawasan Timur Tengah perlahan terasa efeknya ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Di tengah kondisi kayak gini, distribusi BBM bersubsidi jadi sorotan serius karena rawan disalahgunakan kalau nggak diawasi dengan ketat.

Anggota Komisi XII DPR RI, Cheroline Chrisye Makalew, ikut angkat suara soal ini. Menurutnya, tanpa pengawasan yang benar-benar kuat, BBM subsidi bisa melenceng dari tujuan awalnya dan justru dinikmati oleh pihak yang nggak berhak.

Ia menekankan bahwa kondisi di lapangan masih jauh dari ideal. Penyalahgunaan, penimbunan, bahkan distribusi yang nggak tepat sasaran masih sering terjadi, padahal BBM subsidi seharusnya jadi penopang masyarakat kecil yang paling membutuhkan.

“Perkuat pengawasan dan distribusi BBM agar tidak terjadi penimbunan dan penyalahgunaan. Peruntukan BBM subsidi harus benar-benar kepada masyarakat yang membutuhkan, karena kenyataan di lapangan sering sekali disalahgunakan,” ujar Cheroline dalam keterangannya, Kamis, 2 April 2026.

Isu ini makin penting karena tekanan global di sektor energi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ketegangan geopolitik bikin harga energi gampang naik turun, dan negara yang masih bergantung pada BBM bakal ikut terdampak cukup besar.

Makanya, selain memperketat pengawasan, pemerintah juga didorong buat mikir lebih jauh ke depan. Nggak cukup hanya mengatur distribusi, tapi juga harus mulai serius mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Cheroline menyebut pengembangan energi baru terbarukan atau EBT jadi salah satu kunci penting. Indonesia sebenarnya punya potensi besar, tapi sayangnya belum dimaksimalkan secara optimal, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.

Menurutnya, daerah seperti Papua punya sumber daya alam yang melimpah untuk energi alternatif, mulai dari tenaga air sampai potensi energi lainnya. Tapi sampai sekarang, pemanfaatannya masih belum maksimal dan cenderung jalan di tempat.

“Pemerintah perlu mempercepat pengembangan EBT untuk listrik agar ketergantungan pada BBM berkurang. Terlebih khusus untuk wilayah Timur Indonesia seperti Papua, kita punya sumber daya alam yang memadai tapi belum maksimal dalam pengelolaan,” jelasnya.

Langkah ini dinilai penting bukan cuma buat mengurangi beban subsidi, tapi juga untuk menciptakan sistem energi yang lebih stabil dan tahan terhadap gejolak global. Dengan kata lain, Indonesia harus mulai berdiri lebih mandiri dalam urusan energi.

Selain itu, pemerintah juga didorong untuk memperkuat cadangan energi nasional. Hal ini mencakup peningkatan kapasitas produksi dalam negeri hingga sistem penyimpanan yang lebih siap menghadapi kondisi darurat.

Dengan cadangan yang kuat, Indonesia bisa lebih tenang menghadapi fluktuasi harga global. Nggak perlu panik setiap kali ada konflik internasional yang berdampak pada pasokan energi dunia.

Di sisi lain, stabilitas harga juga jadi perhatian penting. Tanpa kontrol yang baik, lonjakan harga BBM bisa berdampak langsung ke daya beli masyarakat dan memicu efek domino ke sektor lain.

Cheroline menilai semua langkah ini harus dijalankan secara paralel. Pengawasan distribusi, pengembangan energi baru, dan penguatan cadangan energi nggak bisa dipisahkan satu sama lain.

“Indonesia perlu terus memperkuat cadangan energi nasional, meningkatkan kapasitas produksi dan penyimpanan dalam negeri, serta mempercepat transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan agar ketahanan energi kita semakin kokoh ke depan,” pungkasnya.

Di tengah situasi global yang serba nggak pasti, satu hal jadi jelas: urusan energi bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi sudah masuk kategori strategis. Kalau salah langkah, dampaknya bisa luas dan panjang.

Karena itu, pembenahan distribusi BBM subsidi jadi langkah awal yang krusial. Bukan cuma soal teknis, tapi juga soal keadilan agar subsidi benar-benar sampai ke tangan yang berhak.

Dengan pengawasan yang makin ketat dan arah kebijakan yang lebih visioner, harapannya Indonesia bisa lebih siap menghadapi tekanan global tanpa harus terus bergantung pada BBM. (*)

Share This Article