Iran Menang Perang? Media AS Laporkan Militer Paman Sam Keteteran Hadapi Teheran

R. Izra
3 Min Read
Ilustrasi pasukan militer Iran dengan alutsista mereka.

AKARMERDEKA – Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel menunjukkan tanda baru: Washington mulai tertekan. Di luar dugaan, Teheran berhasil membuat militer Paman Sam kelabakan.

Media AS Newsweek melaporkan militer Amerika memindahkan sebagian sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan ke Timur Tengah.

Langkah ini diambil setelah 11 hari serangan rudal dan drone Iran terus menghantam pangkalan AS dan sekutunya di kawasan.

Baca Juga: Memoles Citra dan Cari Panggung? Niat Prabowo Jadi Mediator Perang Iran-AS Tak Realistis

Pentagon juga dilaporkan menarik rudal pencegat untuk sistem MIM-104 Patriot dari beberapa wilayah lain, termasuk Indo-Pasifik. Ini memunculkan kekhawatiran bahwa stok amunisi pertahanan udara AS mulai tertekan.

Militer Iran bahkan mengklaim telah menghantam sedikitnya empat radar THAAD di pangkalan Timur Tengah, termasuk di Muwaffaq Salti Air Base, Yordania.

Pemindahan sistem pertahanan dari Korea Selatan juga memicu kekhawatiran di Seoul. Presiden Lee Jae Myung menyatakan negaranya sebenarnya menolak langkah itu karena bisa melemahkan pertahanan terhadap Korea Utara. Seoul khawatir langkah tersebut dapat memicu sikap lebih agresif dari Korea Utara.

Namun Lee mengakui keputusan akhir tetap berada di tangan militer AS. Menurutnya, United States Forces Korea (USFK) masih memiliki kewenangan untuk memindahkan sebagian sistem pertahanan udara ke wilayah lain jika dianggap diperlukan secara militer.

Baca Juga: Mojtaba Ali Khamenei Naik Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Sosoknya Sangat Dibenci AS

Lee juga tidak secara tegas mengonfirmasi apakah sebagian baterai Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) benar-benar sudah dipindahkan dari Korea Selatan. Ia hanya memastikan bahwa sistem pertahanan Seoul terhadap Korea Utara tetap dalam kondisi kuat.

“Meskipun kami telah menyatakan penentangan, kenyataannya kami tidak dapat sepenuhnya memaksakan posisi kami,” ujar Lee seperti dikutip Yonhap News Agency.

Konflik besar ini meletus pada 28 Februari setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran yang menewaskan pemimpin Iran Ali Khamenei.

Sejak itu Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran: menggempur kota-kota Israel seperti Tel Aviv, menyerang pangkalan AS di negara-negara Arab, hingga menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Kini, dengan serangan Iran yang terus berlanjut dan sistem pertahanan AS mulai dipindah dari berbagai wilayah, tekanan terhadap Washington terlihat semakin nyata. (*)

Share This Article