Puan Terima Kunjungan Ketua MPR Tiongkok, Singgung Banjir-Longsor yang Landa RI

R. Izra
2 Min Read
Ketua DPR RI Puan Maharani menerima kunjungan Ketua MPR Tiongkok H.E. Wang Huning di Gedung DPR RI.

AKARMERDEKA, JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani menerima kunjungan Ketua Komite Nasional CPPCC China, Wang Huning, di Gedung DPR RI, Senayan, Rabu (3/12/2025). Dalam pertemuan bilateral itu, Puan menyoroti krisis iklim, bencana alam, hingga konflik geopolitik global.

Puan menyebut banjir dan longsor yang melanda Indonesia dan kawasan Asia Tenggara sebagai bukti bahwa krisis iklim sudah berada di level mengkhawatirkan. Ia mendesak seluruh negara lebih serius menjalankan komitmen bersama.

Baca Juga: Milad ke-113 Muhammadiyah, Puan Maharani: Terus Berkhidmat dan Melayani Umat

Baca Juga: Erupsi Semeru, Puan Tekankan Prioritas Keamanan Bagi Warga dan Pendaki

“Dampak krisis iklim sudah nyata. Semua negara harus bertindak sesuai kapasitasnya,” tegas Puan.

Ia juga mendorong penyelesaian damai konflik global, termasuk di Timur Tengah, Semenanjung Korea, dan perang Rusia–Ukraina. Puan menegaskan pentingnya peran Tiongkok sebagai Anggota Tetap DK PBB, termasuk dalam upaya menghentikan genosida di Palestina dan mendorong Solusi Dua Negara.

Dalam pertemuan tersebut, Puan menegaskan hubungan RI–Tiongkok yang telah terjalin selama 75 tahun sebagai kemitraan strategis, baik di kawasan maupun global. Ia menyinggung kunjungan Presiden Prabowo ke Beijing, serta sejumlah kesepakatan ekonomi yang terus diperkuat.

Data perdagangan 2024 menunjukkan nilai transaksi Indonesia–Tiongkok mencapai USD 147,8 miliar, sementara investasi Tiongkok menembus USD 8,2 miliar dan menjadi investor asing terbesar ketiga di Indonesia.

Puan juga menyampaikan DPR RI resmi mengaktifkan kembali Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) Indonesia–Tiongkok periode 2024–2029 sebagai jembatan diplomasi parlemen kedua negara.

Kerja sama ke depan, kata Puan, akan difokuskan pada sektor infrastruktur, energi hijau, industri manufaktur, ekonomi digital, hingga penguatan pertukaran pelajar, peneliti, dan kerja sama budaya.

“Kerja sama antar-masyarakat adalah fondasi kemitraan Indonesia–Tiongkok,” pungkasnya. (*)

Share This Article