PSI Mau Jadi ‘Rumah Bersama’, Bermimpi Geser Dominasi PDIP, Pengamat: Gak Setara

R. Izra
4 Min Read
Ilustrasi bendera PSI dan PDIP.

AKARMERDEKA, JAKARTA – PSI kembali memoles citra. Lewat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang akan digelar di Makassar pada 29–31 Januari 2026, partai berlambang gajah itu memamerkan tema besar nan manis: ‘PSI Rumah Bersama, Partai Terbuka, Bekerja Nyata untuk Kebangsaan.’

Tema ini, kata Ketua Harian PSI Ahmad Ali, bukan sekadar slogan. Ia diklaim sebagai penegasan bahwa PSI kini menjelma menjadi partai super terbuka, atau dalam istilah yang lebih kekinian: partai Tbk.

“PSI ini rumah untuk semuanya,” ujar Ali, seolah ingin memastikan bahwa pintu partai tak lagi dijaga satpam ideologi tertentu. PSI, menurutnya, tak mau lagi dikenal sebagai partai segmen, apalagi milik satu lingkaran.

Baca Juga:  Purbaya Blak-blakan: UU Cipta Kerja Era Jokowi Bikin Negara Tombok Rp 125 Triliun

Namun publik tentu masih ingat, PSI yang “dulu kita tahu seperti apa modelnya,” meminjam kata Ali sendiri. Kini, PSI ingin tampil sebagai wadah semua anak bangsa: inklusif, terbuka, dan bekerja nyata. Setidaknya begitu narasinya.

Bahkan, sebelumnya Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menyatakan PSI ingin jadikan Jateng sebagai ‘kandang gajah’, bukan lagi kandang banteng.

Jokowi hadiri rakernas

Rakernas PSI juga akan dihadiri Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Jokowi dijadwalkan memberi kuliah umum di hari kedua. Tema kuliahnya masih dirahasiakan, tapi kehadirannya sudah cukup bicara banyak.

Sebab, di PSI, Jokowi bukan sekadar tamu. Ia adalah ide, inspirasi, sekaligus matahari yang orbitnya masih kuat. Konsep Partai Super Terbuka (Tbk) sendiri adalah gagasan yang berulang kali dilontarkan Jokowi. PSI tampaknya tinggal mengemas dan mematenkannya.

Rakernas ini bakal dihadiri 3.500 hingga 5.000 peserta dari seluruh Indonesia. Forum tersebut, kata Ali, akan menjadi ruang “mendengar” masukan pengamat dan peneliti demi pemenangan partai.

Struktur panitia pun tak kalah menarik. Ketua Steering Committee dijabat Ahmad Ali, sementara ketua panitia berasal dari DPW Sulsel, Ferirae Gandi, yang juga dikenal sebagai anak politisi Rusdi Masse. Partai terbuka, tapi jejaring lama tetap rapi tersusun.

Baca Juga: Kader PSI Ngaku Aktivis ’98: Jadi Anggota BIN Gadungan demi Kencan Gratis

Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep sebelumnya menegaskan bahwa PSI bukan milik elite, bukan milik keluarga, dan bukan milik segelintir orang. Semua kader, katanya, punya kesempatan memimpin.

“Siapa pun bisa memimpin partai ini asal ikut berpartisipasi,” kata Kaesang.

Pernyataan itu terdengar indah. Namun di negeri politik yang akrab dengan relasi kuasa dan trah keluarga, publik wajar bertanya: sejauh mana “super terbuka” itu benar-benar terbuka?

Pengamat: PSI belum setara PDIP

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai target Kaesang tersebut terlalu tinggi untuk ukuran PSI saat ini. Menurutnya, PSI belum setara jika harus berhadapan langsung dengan PDIP yang selama ini dikenal sebagai pemilik sah “kandang banteng” di Jawa Tengah.

“Kalau head to head dengan PDIP, PSI memang tidak setara. Membandingkan Kaesang dengan Megawati itu seperti bumi dan langit,” ujar Jamiluddin, Senin (12/1).

Ia menilai wajar bila PDIP merespons dingin target PSI tersebut. Bisa jadi, bagi PDIP, pernyataan Kaesang tak lebih dari khayalan anak kecil yang terlalu dini bermimpi jadi raja kandang.

Menurut Jamiluddin, persoalan PSI bukan hanya pada elektabilitas, tapi juga kedalaman ideologi. PDIP dinilai jauh lebih mengakar di Jawa Tengah, dengan kader yang ideologis dan jaringan struktural yang solid hingga tingkat akar rumput.

“PDIP itu sudah menyatu dengan kultur politik masyarakat Jawa Tengah. Partai lain saja sulit, apalagi PSI,” tegasnya. (*)

Share This Article