AKARMERDEKA, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto tampaknya tak lagi sekadar mendengar kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kali ini, ia meminta video pihak-pihak yang menghina atau meramalkan kegagalan program itu untuk dikumpulkan.
Perintah itu disampaikan saat meresmikan 1.079 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Jakarta Barat, Jumat (13/2/2026). Kepala Kantor Staf Presiden, M. Qodari, diminta langsung mengarsipkan rekaman tersebut.
“Pak Qodari tolong dikumpulin ya video klip-video klip yang ramalkan kita pasti gagal,” kata Prabowo.
Baca Juga: Ganjar Masuk 3 Besar Bursa Capres 2029, Hasil Survei Terbaru Indonesian Public Institute
Presiden mengaku heran program yang menurutnya bertujuan menyelamatkan anak-anak Indonesia justru dituduh sebagai penghinaan terhadap bangsa.
“MBG ini penghinaan kepada Bangsa Indonesia? Kita mau menyelamatkan anak-anak kita dibilang menghina,” ujarnya.
Ia bahkan berkelakar ingin menonton video-video itu setiap malam, seolah ingin memastikan sendiri apakah tudingan tersebut masuk akal atau tidak.
Di titik ini, garis antara kritik dan hinaan mulai terasa kabur. Dalam program sebesar MBG, yang menyangkut anggaran negara dan jutaan penerima, sorotan publik sebenarnya bukan hal aneh. Justru itu konsekuensi kebijakan besar.
Baca Juga: Dasco Tanggapi Usulan PAN Duet Prabowo-Zulhas 2029: Politik Dinamis, Kita Lihat Nanti
Namun respons Istana memberi sinyal lain: kritik tampaknya tidak lagi dianggap sekadar masukan, tetapi mulai dibaca sebagai serangan.
Prabowo kemudian membawa narasi lebih personal. Ia menegaskan sejak muda siap mati untuk Republik dan kini mendedikasikan sisa hidupnya untuk membangun Indonesia.
“Saya siap mati untuk Republik, sisa hidup saya hanya untuk menyelamatkan, membangun Republik Indonesia,” tegasnya.
MBG memang diproyeksikan menjangkau puluhan juta anak, program raksasa yang otomatis mengundang pujian sekaligus skeptisisme. Pertanyaannya sederhana: apakah pemerintah siap diuji, atau hanya siap didukung?
Sebab dalam demokrasi, kritik bukan sabotase. Ia alat kontrol. Jadi, ketika kritik banyak dilayangkan, bahkan dengan gaya paling keras pun, penguasa tak boleh cepat panas telinganya.
Mengumpulkan video pengkritik mungkin terdengar sepele, bahkan jenaka. Tapi pesan politiknya tak bisa diabaikan, ketika kekuasaan mulai sibuk mendata penentang, publik biasanya akan bertanya: ini sekadar respons emosional, atau tanda pemerintah mulai tak nyaman diawasi?
Satu hal jelas: program besar butuh kepercayaan. Dan kepercayaan jarang tumbuh di ruang yang alergi terhadap kritik. (*)

