AKARMERDEKA, JAKARTA – Perdebatan soal kondisi ekonomi Indonesia kembali ramai di ruang publik. Pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai analisis ekonomi di media sosial sering tidak berbasis data ikut memicu diskusi panjang. Komentar itu langsung mendapat tanggapan dari sejumlah pengamat politik.
Salah satu yang angkat suara adalah analis komunikasi politik Hendri Satrio. Ia menilai respons pemerintah terhadap kritik ekonomi seharusnya tidak berhenti pada bantahan. Menurutnya, yang lebih penting justru menunjukkan hasil nyata di lapangan.
Hendri yang akrab disapa Hensat mengatakan masyarakat ingin melihat perubahan konkret. Ia menilai kondisi ekonomi saat ini belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Karena itu pemerintah dinilai perlu fokus pada kerja nyata.
Menurut Hensat, perdebatan di ruang publik tidak akan banyak membantu jika tidak disertai kebijakan nyata. Ia menilai pejabat publik sebaiknya tidak terlalu sibuk menanggapi kritik di media sosial. Energi lebih baik diarahkan untuk memperbaiki kondisi ekonomi.
Founder lembaga survei KedaiKOPI itu bahkan menilai Menteri Keuangan saat ini terlalu sering memberikan pernyataan. Ia menyebut publik justru menunggu hasil kebijakan yang bisa dirasakan langsung. Bagi masyarakat, perubahan ekonomi jauh lebih penting daripada debat narasi.
Hensat juga mengingatkan gaya kerja sejumlah menteri keuangan pada masa lalu. Menurutnya, banyak dari mereka dikenal lebih banyak bekerja daripada berbicara di publik. Model kepemimpinan seperti itu dinilai lebih efektif.
Ia menilai pendekatan yang sederhana justru sering memberi dampak besar. Fokus pada kebijakan dan implementasi dianggap lebih penting daripada menjawab setiap kritik yang muncul. Hasil kerja pada akhirnya akan menjawab semua keraguan.
Karena itu ia menyarankan agar Menteri Keuangan meniru pola kerja tersebut. Bekerja lebih banyak dan berbicara secukupnya dianggap sebagai strategi yang lebih tepat. Apalagi kondisi ekonomi global saat ini sedang penuh tekanan.
Hensat juga menyampaikan pesan langsung kepada Purbaya. Ia meminta agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Menurutnya, masyarakat menunggu kebijakan yang benar-benar terasa manfaatnya.
Sebelumnya, Purbaya sempat mengkritik sejumlah analisis ekonomi yang viral di media sosial. Ia menyebut beberapa prediksi ekonomi yang beredar di TikTok dan YouTube tidak melihat data secara utuh. Hal itu membuat kesimpulan yang muncul dinilai tidak akurat.
Salah satu isu yang dibahas adalah potensi ekonomi Indonesia yang disebut bisa hancur jika harga minyak dunia melonjak. Narasi tersebut ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial. Banyak konten kreator ekonomi ikut mengulasnya.
Namun menurut Purbaya, kesimpulan tersebut tidak tepat. Ia menilai analisis itu tidak mempertimbangkan pengalaman dan data historis ekonomi Indonesia. Padahal data tersebut penting untuk melihat ketahanan ekonomi nasional.
Perdebatan ini akhirnya memperlihatkan dua sudut pandang berbeda. Di satu sisi pemerintah mencoba meluruskan narasi yang dianggap keliru. Di sisi lain pengamat meminta pemerintah fokus pada hasil nyata.
Diskusi mengenai kondisi ekonomi Indonesia pun terus bergulir. Kritik dan tanggapan menjadi bagian dari dinamika ruang publik. Pada akhirnya masyarakat berharap kebijakan yang diambil benar-benar membawa perbaikan ekonomi. (*)

