Budi Arie Tak Berempati, Politik 2029 Dibahas Saat Bencana

Ketua Presidium Exponen 08 M Damar menilai pernyataan yang terekam dalam video viral tersebut menunjukkan minimnya empati terhadap kondisi masyarakat. Menurut dia, saat pemerintah sedang berjibaku menangani bencana, energi publik seharusnya diarahkan untuk membantu warga terdampak, bukan membahas manuver politik.

Nugroho Purbohandoyo
3 Min Read
Budie Arie.

AKARMERDEKA, JAKARTA – Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi soal kemungkinan perubahan politik sebelum Pemilu 2029 ikut memantik sorotan. Di tengah bencana yang masih melanda sejumlah daerah, pembicaraan soal perebutan kekuasaan dinilai kurang pas untuk dilempar ke ruang publik.

Ketua Presidium Exponen 08 M Damar menilai pernyataan yang terekam dalam video viral tersebut menunjukkan minimnya empati terhadap kondisi masyarakat. Menurut dia, saat pemerintah sedang berjibaku menangani bencana, energi publik seharusnya diarahkan untuk membantu warga terdampak, bukan membahas manuver politik.

“Pemerintah tengah berjuang di tengah bencana kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera, serta gempa bumi di NTT. Ini justru ada pihak tokoh negara yang justru berbicara politik dan kekuasaan. Ini jelas tidak menunjukkan rasa empati sedikit pun,” ujar Damar.

Bencana Belum Usai, Politik Malah Dibahas

Damar mengatakan pemerintah saat ini masih punya pekerjaan besar untuk menangani dampak bencana di berbagai wilayah. Presiden Prabowo Subianto, menurut dia, tengah berupaya mendorong proses pemulihan agar kondisi masyarakat terdampak bisa segera membaik.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk ikut mendukung penanganan bencana. Menurut Damar, pembahasan mengenai Pemilu 2029 belum menjadi kebutuhan mendesak ketika masyarakat di sejumlah daerah masih menghadapi situasi sulit.

“Kita seharusnya membantu pemerintah dalam situasi bencana seperti ini. Tidak tepat membicarakan soal pemilu sekarang,” katanya.

Bagi Damar, perhatian semestinya diarahkan pada kebutuhan warga yang terdampak. Mulai dari penanganan darurat, pemulihan fasilitas, hingga memastikan masyarakat bisa kembali menjalani aktivitas secara normal.

Dinilai Bisa Bikin Hubungan Politik Memanas

Selain soal empati, Damar juga menilai video yang viral tersebut berpotensi menimbulkan efek lain. Pernyataan mengenai kemungkinan perubahan politik lebih cepat dari jadwal Pemilu 2029 dinilai bisa membuat relasi sejumlah tokoh nasional menjadi renggang.

Situasi tersebut dikhawatirkan ikut menciptakan jarak di antara kelompok-kelompok yang selama ini berada di lingkaran pendukung pemerintahan Prabowo.

Menurut Damar, soliditas justru menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjalankan berbagai agenda. Apalagi, pemerintahan masih menghadapi banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan dukungan politik dan sosial.

“Soliditas juga menjadi modal penting bagi pemerintahan Prabowo Subianto dalam menjalankan program dan kebijakan,” tandasnya.

Fokus Pemerintah Tak Boleh Buyar

Damar meyakini polemik video Budi Arie tidak seharusnya menggeser fokus pemerintah dari persoalan yang lebih mendesak. Penanganan bencana, menurutnya, tetap harus menjadi prioritas.

Ia berharap para tokoh politik bisa membaca situasi dengan lebih sensitif. Ketika masyarakat sedang berhadapan dengan bencana, pernyataan terkait kekuasaan dan kontestasi politik dinilai lebih baik ditahan agar tidak menambah kegaduhan.

Di tengah situasi seperti sekarang, kata Damar, yang dibutuhkan bukan sekadar adu wacana politik. Pemerintah dan para pendukungnya justru perlu menunjukkan kekompakan agar penanganan bencana bisa berjalan lebih maksimal.

Bagi dia, urusan Pemilu 2029 masih punya waktunya sendiri. Untuk saat ini, perhatian sebaiknya dikembalikan kepada masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan dan pemulihan. (*)

Share This Article