Dubes Iran Sudah Temui ‘Para Mantan’ tapi Belum Berjumpa Prabowo, Mengapa?

R. Izra
3 Min Read
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengunjungi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di kediaman Presiden ke-5 RI, di Menteng, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

AKARMERDEKA, JAKARTA — Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, tampaknya sudah menuntaskan satu putaran penting: bertemu para mantan pemimpin Indonesia. Tinggal satu yang belum, Presiden aktif, Prabowo Subianto.

Alih-alih memastikan jadwal, Boroujerdi hanya menyampaikan harapan. “Tentunya merupakan sebuah kebanggaan bagi saya jika bertemu Presiden Republik Indonesia saat ini Bapak Prabowo,” ujarnya di Kampus Paramadina, Jakarta Timur, Sabtu (11/4/2026).

Sebuah pernyataan yang terdengar sopan, tapi menyiratkan satu hal: pintu Istana belum tentu terbuka.

Baca Juga: Trump Ngamuk setelah Dipolmasi AS-Iran Gagal, Perintahkan Blokade Selat Hormuz

Sebelumnya, Boroujerdi sudah lebih dulu sowan ke sejumlah tokoh nasional, mulai dari Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.

Lengkap. Dari yang masih berpengaruh, sampai yang tetap punya panggung.

Alasannya? Diplomatis. Ia mengaku ingin menyampaikan kondisi terkini Iran pasca serangan Israel dan Amerika Serikat, sekaligus mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan.

“Tidak hanya tokoh politik, tapi juga tokoh agama, budayawan, semua kami temui,” katanya.

Bahasanya rapi. Tujuannya jelas: membangun simpati.

Namun pola ini menimbulkan pertanyaan: mengapa justru Presiden aktif belum disentuh? Dalam praktik diplomasi, bertemu kepala negara adalah prioritas. Tapi di sini, yang terjadi justru sebaliknya, memutar lebih dulu ke lingkaran luar kekuasaan.

Istana susah ditembus?

Apakah ini strategi? Atau sinyal bahwa akses ke pusat kekuasaan sedang tidak mudah?

Kunjungan Boroujerdi tak bisa dilepaskan dari konteks global. Iran sedang berada di bawah tekanan pasca konflik dengan Israel dan Amerika Serikat. Dukungan internasional menjadi penting, termasuk dari negara seperti Indonesia.

Baca Juga: Viral Video Makzulkan Prabowo Berujung Laporan Polisi, Tak Ruang Aman untuk Kritik Penguasa

Masalahnya, Indonesia juga punya posisi yang harus dijaga. Terlalu dekat bisa dibaca sebagai keberpihakan. Terlalu jauh bisa dianggap abai.

Di titik ini, sikap Istana, yang belum terlihat membuka ruang pertemuan, menjadi menarik untuk dibaca.

Pernyataan “bangga jika bertemu” terdengar sederhana. Tapi dalam bahasa diplomasi, itu bisa berarti banyak hal: menunggu undangan, belum mendapat akses, atau sekadar menjaga etika.

Yang jelas, sampai hari ini, pertemuan itu belum terjadi. Dan dalam politik, yang belum terjadi seringkali lebih penting daripada yang sudah. (*)

Share This Article