AKARMERDEKA, JAKARTA – Wacana “koalisi permanen” yang lagi digulirkan Partai Golkar bikin suhu politik naik tipis-tipis. Tapi buat Surya Paloh, ide itu nggak bisa asal gas. Boleh dipikirkan, tapi pertanyaannya simpel: ujungnya mau ke mana?
Ketua Umum Partai NasDem itu menegaskan, koalisi permanen sah-sah saja dibahas. Nggak ada yang tabu. Tapi jangan cuma jadi proyek jangka panjang tanpa arah yang jelas.
“Koalisi permanen boleh saja dipertimbangkan. Enggak ada masalah. Tapi gol besar kita apa?” kira-kira begitu pesan Paloh saat ditemui di Kantor DPP NasDem, Jakarta, Sabtu (21/2/2026).
Baca Juga: Bahlil: Golkar Dukung Prabowo-Gibran Sampai Tuntas
Menurutnya, kalau cuma buat solid-solidan elite tapi nggak berdampak ke rakyat, ya buat apa? Buat Paloh, esensi politik itu satu: kemajuan bangsa yang berujung pada kesejahteraan merata. Bukan kesejahteraan buat lingkaran tertentu doang.
Ia juga ngingetin, jangan sampai koalisi permanen malah bikin politik makin eksklusif. Pengotakan karena suku, agama, ras, sampai status sosial harusnya makin ditinggalin, bukan dipelihara. Kalau masih sibuk saling sindir, saling klaim paling benar, itu bukan maju, itu mundur.
Di sisi lain, Golkar kelihatan serius banget dorong ide ini. Sekjen Partai Golkar, Sarmuji, bilang koalisi permanen penting buat menjaga dukungan ke pemerintahan Prabowo Subianto.
Soal durasi? Masih fleksibel. Bisa lima tahun penuh, bisa juga jangka panjang sampai 2029 dan seterusnya. Intinya, menurut Golkar, perjalanan politik ke depan nggak bakal mulus. Bakal ada kebijakan-kebijakan yang dilematis dan mungkin nggak populer. Di situ lah koalisi kuat dibutuhkan.
Baca Juga: Saat Kritik MBG Bikin Presiden Gerah, Prabowo Minta Video Penghina MBG Dikumpulkan
Narasinya: stabilitas. Tapi publik juga nggak bisa disalahkan kalau bertanya: ini soal stabilitas pemerintahan atau stabilitas peta kekuasaan sampai Pilpres berikutnya?
Apalagi wacana ini muncul di tengah spekulasi soal arah dukungan 2029. Sejumlah pengamat bahkan menilai ide koalisi permanen bisa jadi langkah “kunci duluan” sebelum kontestasi makin panas.
Politik bukan soal saling kunci mengunci
NasDem sendiri belum bilang yes atau no. Tapi sinyalnya jelas: kalau mau permanen, harus jelas tujuannya. Jangan sampai koalisi jadi sekadar kendaraan kekuasaan tanpa roadmap buat rakyat.
Paloh menutup dengan nada reflektif, politik itu bukan ajang hujat kanan kiri atau merasa paling hebat sendiri. Kalau mentalnya masih begitu, katanya, itu tandanya kita belum maju.
Jadi, koalisi permanen? Bisa aja. Tapi seperti kata NasDem: sebelum ngomong durasi, jawab dulu pertanyaan paling basic—goal besarnya apa? (*)

