AKARMERDEKA, BALI – Perayaan dua hari besar agama tahun ini sempat bikin ramai perbincangan di media sosial. Ada yang khawatir suasana Bali bakal ribet karena Hari Raya Nyepi dan Idulfitri waktunya sangat berdekatan.
Tapi kekhawatiran itu langsung ditepis oleh I Wayan Koster. Gubernur Bali ini menegaskan bahwa dua perayaan tersebut tidak akan saling mengganggu.
Menurut Koster, narasi yang menyebut Nyepi dan Idulfitri bakal bentrok hanyalah spekulasi yang beredar di media sosial. Kenyataannya, jadwal kedua perayaan itu masih punya jarak waktu yang cukup jelas.
Ia menjelaskan bahwa Hari Raya Nyepi jatuh pada 19 Maret. Setelah itu, keesokan paginya umat Hindu memasuki tradisi Ngembak Geni yang menandai berakhirnya hari hening.
Baru pada sore hari tanggal 20 Maret, umat Islam mulai memasuki suasana malam takbiran. Sementara Idulfitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret.
“Tidak berhimpit sebenarnya. Nyepi pada 19 Maret, kemudian Ngembak Geni tanggal 20 pagi. Sore harinya baru malam takbiran,” kata Koster saat memberikan keterangan resmi.
Karena itulah, ia memastikan dua perayaan besar ini masih bisa berjalan berdampingan tanpa gangguan. Bali tetap bisa menjaga ketenangan Nyepi sekaligus menghormati perayaan Lebaran umat Muslim.
Untuk menghindari kesalahpahaman, pemerintah provinsi juga sudah mengeluarkan surat edaran. Surat tersebut disusun bersama berbagai majelis umat beragama di Bali.
Salah satu pihak yang ikut dilibatkan adalah Majelis Ulama Indonesia. Tujuannya supaya semua aturan kegiatan keagamaan jelas dan disepakati bersama.
“Kami sudah membuat surat edaran bersama dengan semua majelis umat beragama di Bali. Jadi semuanya sudah clear dan tidak ada masalah,” ujar Koster.
Selain koordinasi dengan tokoh agama, pemerintah daerah juga menggandeng aparat keamanan. Langkah ini dilakukan agar dua momentum besar tersebut bisa berjalan aman dan tertib.
Koordinasi juga dilakukan dengan pihak kepolisian, khususnya jajaran lalu lintas. Mereka bersiap mengatur mobilitas masyarakat yang meningkat menjelang libur Lebaran.
Dalam hal ini, perhatian utama datang dari Agus Suryonugroho yang menjabat Kepala Korps Lalu Lintas Polri.
Ia memastikan bahwa pelaksanaan Operasi Ketupat akan berjalan seperti biasa di Bali. Operasi ini bukan sekadar pengaturan lalu lintas, tetapi juga bagian dari pelayanan negara kepada masyarakat.
“Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Negara hadir untuk mengamankan momentum sosial masyarakat,” ujar Agus.
Menurutnya, pengamanan tidak hanya fokus pada jalur mudik. Beberapa lokasi penting juga akan mendapat perhatian khusus.
Mulai dari jalan tol, jalur arteri, hingga pelabuhan penyeberangan seperti Pelabuhan Gilimanuk yang menjadi pintu utama keluar masuk Bali.
Selain itu, kawasan tempat ibadah juga masuk dalam daftar prioritas pengamanan. Hal ini penting karena dua perayaan agama besar terjadi dalam waktu yang hampir berdekatan.
Tempat wisata pun tidak luput dari perhatian. Bali selalu menjadi tujuan favorit masyarakat saat libur panjang Lebaran.
Karena itu, aparat akan memastikan lalu lintas wisata tetap lancar. Pengamanan juga dilakukan untuk menjaga kenyamanan wisatawan yang datang dari berbagai daerah.
Salah satu titik krusial adalah jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk Ferry Crossing. Jadwal operasionalnya akan disesuaikan dengan pelaksanaan Nyepi.
Saat Nyepi berlangsung, seluruh aktivitas di Bali memang berhenti sementara. Termasuk transportasi dan kegiatan luar ruangan.
Namun setelah Nyepi berakhir, aktivitas kembali berjalan normal. Pada saat itulah arus mudik dan perjalanan wisata diperkirakan meningkat.
Pemerintah daerah berharap masyarakat tidak terprovokasi isu yang tidak jelas sumbernya. Bali sudah terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman.
Koster menegaskan bahwa harmoni antarumat beragama di Bali selama ini terjaga dengan baik. Nyepi dan Idulfitri pun diyakini bisa berlangsung berdampingan dengan suasana tetap damai. (*)

