Blora Culture Festival 2026 Jadi Panggung Kolaborasi Lintas Daerah

T. Budianto
4 Min Read
TARI TAYUB: Sejumlah penari membawakan Tari Tayub dalam ajang Blora Culture Festival (BCF) 2026 di kawasan Goa Terawang, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Ist)

AKARMERDEKA, BLORA– Goa Terawang di Kabupaten Blora menjadi panggung pertemuan ribuan langkah tari dan beragam kesenian tradisional dalam Blora Culture Festival (BCF) 2026, Sabtu (10/10/2026).

Tak sekadar menjadi agenda wisata tahunan, festival tahun ketiga ini mengusung semangat kolaborasi dengan melibatkan seniman dari berbagai daerah di Jateng hingga wilayah sekitarnya.

Dari Banjarnegara hingga Tuban dan Rembang, para pelaku seni menunjukkan antusiasme untuk ambil bagian. Mereka datang bukan untuk berebut gelar juara, melainkan merayakan tradisi dan memperluas ruang perjumpaan antarkomunitas seni.

Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Blora, Yeti Romdonah mengungkapkan antusiasme seniman dari luar daerah menjadi salah satu hal menarik dalam penyelenggaraan BCF tahun ini. Melalui sistem pendaftaran terbuka atau open call, festival tersebut mendapat respons dari pelaku seni yang ingin terlibat dalam perayaan budaya di Blora.

Salah satu agenda utama yang disiapkan adalah kolaborasi 1.000 penari Tayub. Ribuan penari itu akan membawakan tema “Gatra Cacana Jaya Kerta Bhumi”, sekaligus menjadi gambaran bagaimana kesenian tradisional dapat menyatukan masyarakat dari latar belakang berbeda.

Para penari berasal dari berbagai kelompok, mulai dari pelajar, organisasi perempuan, masyarakat umum, seniman tradisional hingga unsur TNI dan Polri. Mereka akan berada dalam satu panggung kebudayaan, tanpa sekat profesi maupun jabatan.

Keterlibatan beragam kelompok tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan festival sebagai ruang partisipasi masyarakat. Budaya tidak hanya dipertontonkan oleh seniman profesional, tetapi juga dihidupkan bersama oleh warga yang selama ini menjadi bagian dari tradisi lokal.

BCF 2026 juga dirancang untuk mempertemukan berbagai kesenian khas Blora dalam satu pertunjukan kolaboratif. Barongan dengan ritme yang menghentak, Jedoran yang lekat dengan tradisi masyarakat, serta Tari Prajurit Suro ing Jipang akan berpadu dengan Tayub sebagai salah satu ruh utama festival.

Kolaborasi tersebut diharapkan memberi ruang lebih luas bagi komunitas seni untuk menampilkan kekayaan tradisi masing-masing. Pada saat yang sama, pengunjung dapat menikmati beragam kesenian dalam satu rangkaian acara di kawasan Goa Terawang.

Pemilihan lokasi ini turut memberikan pengalaman berbeda bagi penyelenggaraan festival. Lanskap alam dan kawasan hutan jati menjadi latar pertemuan seni tradisional dengan aktivitas pariwisata, sekaligus memperkuat daya tarik destinasi wisata Blora.

Membawa Manfaat

Namun, besarnya jumlah penari dan kemeriahan pertunjukan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan festival. Keberlanjutan kegiatan seni, keterlibatan komunitas lokal, serta manfaat bagi pelaku usaha dan masyarakat sekitar juga menjadi aspek penting agar perayaan budaya memberikan dampak lebih luas.

Rangkaian BCF 2026 juga terhubung dengan pertemuan Forum Komunikasi (FK) Desa Wisata ke-35 se-Jawa Tengah. Pada Jumat (9/10/2026), sekitar 150-200 pengelola desa wisata dan perwakilan dinas pariwisata dari berbagai kabupaten/kota dijadwalkan berkumpul dan menginap di Desa Tinapan, Blora.

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi para pengelola desa wisata untuk bertukar pengalaman, membicarakan strategi pengembangan destinasi, serta memperluas jejaring antardaerah.

Pada hari berikutnya, para peserta dijadwalkan bergerak bersama menuju Goa Terawang untuk menyaksikan sekaligus merasakan atmosfer Blora Culture Festival.

Kehadiran pengelola desa wisata dari berbagai daerah berpotensi memperluas promosi destinasi lokal. Festival tidak hanya menjadi etalase budaya Blora, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan potensi wisata dan membuka peluang kerja sama antardaerah.

Bagi Blora, perpaduan festival seni dan pertemuan pengelola desa wisata dapat menjadi momentum untuk menghubungkan kekayaan tradisi dengan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Pada akhirnya, ribuan penari yang bergerak dalam satu irama membawa pesan lebih besar daripada sebuah pertunjukan massal. Blora Culture Festival 2026 berupaya menunjukkan bahwa warisan budaya dapat menjadi jembatan silaturahmi, mempertemukan komunitas lintas wilayah, sekaligus menggerakkan pariwisata lokal. (tb)

Share This Article