AKARMERDEKA, JAKARTA – Rapor sejumlah anggota Kabinet Merah Putih kembali jadi sorotan. Survei Arawicaksa Institute menempatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di posisi paling bawah dalam daftar 10 menteri dengan penilaian kinerja terburuk dari publik selama hampir dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bahlil mencatat skor rata-rata hanya 1,2 dalam survei tersebut. Sejumlah menteri lain juga mendapat nilai rendah, mulai dari urusan pembangunan desa, HAM, perumahan, hingga pertanahan.
Hasil survei ini menjadi salah satu gambaran penilaian masyarakat terhadap kinerja para pembantu presiden. Peneliti senior Arawicaksa Institute, Rudi Hartono, menyebut sejumlah persoalan di masing-masing kementerian ikut menjadi perhatian publik.
Bahlil Terbawah, Harga BBM Jadi Sorotan
Dalam pemaparan survei, Rudi menyoroti kenaikan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, yang disebut mendorong sebagian konsumen beralih ke Pertalite. Perpindahan tersebut dinilai ikut memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
“Naiknya harga BBM non-subsidi seperti Pertamax mendorong terjadi migrasi konsumen ke Pertalite dan menimbulkan antrean panjang di berbagai SPBU,” kata Rudi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Di posisi berikutnya, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto memperoleh skor 1,3. Penilaian rendah terhadap Yandri antara lain dikaitkan dengan berbagai kabar miring seputar pelaksanaan program Koperasi Desa (Kopdes).
Rudi menilai, persoalan yang mengiringi program tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar tujuan memperkuat perekonomian desa bisa tercapai dan mendapat penerimaan masyarakat.
“Berbagai kabar miring terhadap pelaksanaan program Kopdes perlu mendapat perhatian, supaya target mendorong ekosistem perekonomian desa bisa berjalan lebih baik dan mendapat penerimaan publik,” ujarnya.
Nusron Ikut Masuk Daftar Nilai Rendah
Menteri HAM Natalius Pigai menempati posisi berikutnya dengan skor 1,5. Setelah itu ada Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait dengan nilai 1,6, disusul Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid yang memperoleh skor 1,8.
Menurut Rudi, sorotan terhadap Nusron berkaitan dengan kasus dugaan suap yang menyeret sejumlah petinggi kementerian, politisi, dan pengusaha properti. Ia juga menyebut nama Nusron menjadi perhatian dalam perkara dugaan korupsi kuota haji yang masih bergulir di persidangan.
Penyebutan nama dalam sorotan atau perkara hukum tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan seseorang dalam tindak pidana. Penilaian terhadap kinerja menteri dan proses hukum atas suatu kasus merupakan dua hal yang berbeda.
Selain lima nama tersebut, survei Arawicaksa Institute juga menempatkan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dengan skor 2,0 dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dengan nilai 2,1.
Dua menteri lainnya, yakni Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini serta Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, sama-sama meraih skor 2,2. Sementara Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo berada di urutan berikutnya dengan nilai 2,3.
Survei Libatkan 1.200 Responden
Rudi berharap hasil penilaian terhadap para menteri menjadi bahan evaluasi yang objektif bagi Presiden Prabowo. Evaluasi tersebut dinilai penting agar program-program pemerintah ke depan berjalan lebih baik, sembari tetap memperhitungkan dukungan dari berbagai kekuatan politik.
Survei Arawicaksa Institute dilakukan pada 3–8 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka.
Responden dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Survei tersebut mencantumkan margin of error sekitar ±2,89 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil ini menunjukkan bagaimana para menteri mendapat penilaian berbeda dari masyarakat. Namun, skor survei tetap perlu dibaca sesuai metode, cakupan, dan indikator yang digunakan, bukan sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai keseluruhan kinerja kementerian. (*)

