AKARMERDEKA, JAKARTA – Wacana pemilihan kepala daerah lewat DPRD kembali bikin peta politik bergerak. Sejumlah pengamat menilai, skema ini tak berdampak sama rata, karena ada partai-partai tertentu yang justru bakal panen keuntungan.
Pengamat politik Politika Research & Consulting (PRC), Nurul Fatta, menyebut pilkada tidak langsung cenderung menguntungkan partai dengan kekuatan kursi besar di parlemen daerah. Terutama partai penguasa yang punya kendali kuat dalam proses pengambilan keputusan.
Menurut Nurul, partai yang paling diuntungkan dalam skema ini adalah Gerindra. Posisi sebagai partai penguasa membuat ruang manuvernya jauh lebih lebar dibanding partai lain.
Selain Gerindra, Golkar juga masuk daftar teratas. Nurul menilai Golkar sejak awal cukup konsisten mendorong wacana pilkada via DPRD karena memiliki jaringan politik dan ekonomi yang solid, baik di level lokal maupun nasional.
Relasi Golkar dengan kalangan pengusaha dinilai menjadi modal besar jika kepala daerah tak lagi dipilih langsung oleh rakyat. Dengan jalur DPRD, pengaruh politik dan ekonomi bisa lebih efektif dimainkan.
Tak berhenti di situ, PKB dan PAN juga disebut berada di posisi strategis. Kedua partai ini memiliki komposisi kursi DPRD yang cukup signifikan di banyak daerah, sehingga peluang memenangkan kontestasi lewat parlemen terbuka lebar.
Dengan kekuatan kursi tersebut, PKB dan PAN dinilai tak perlu kerja ekstra seperti dalam pilkada langsung. Jalur lobi dan konsolidasi internal DPRD justru bisa menjadi senjata utama.
Nurul melihat, konfigurasi inilah yang membuat pertemuan elite empat partai belakangan ini terasa sarat makna. Menurutnya, pertemuan tersebut sulit dilepaskan dari pembahasan soal pilkada lewat DPRD.
Ia menilai, pertemuan elite Gerindra, Golkar, PKB, dan PAN bukan sekadar silaturahmi politik biasa. Topik pemilihan kepala daerah lewat DPRD diyakini menjadi agenda utama yang dibahas.
“Kalau dilihat dari sikap politik mereka belakangan, ya wajar kalau yang dibicarakan soal pilkada via DPRD,” ujar Nurul. Empat partai ini dinilai paling lantang menyuarakan gagasan tersebut.
Bahkan, dengan komposisi kekuatan yang ada, Nurul menilai empat partai itu sudah cukup untuk menguasai forum pengambilan keputusan. Tanpa tambahan dukungan pun, posisi mereka relatif aman.
Sebagaimana diketahui, pertemuan elite partai pendukung Prabowo-Gibran digelar di kediaman Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia. Hadir dalam pertemuan itu pimpinan Gerindra, Golkar, PAN, dan PKB.
Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, serta Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar tampak hadir. Pertemuan ini langsung memicu beragam tafsir politik.
Menariknya, sejumlah partai pendukung pemerintah lain tidak terlihat dalam pertemuan tersebut. Salah satunya Partai Demokrat yang absensinya memunculkan spekulasi perbedaan sikap di internal koalisi.
Publik pun mulai membaca adanya garis politik yang tak sepenuhnya sejalan, terutama soal wacana pilkada lewat DPRD. Di tengah pro dan kontra yang terus bergulir, isu ini dipastikan masih akan menjadi bahan tarik-ulur politik nasional. (*)

