Trump Blak-blakan: Maduro Hampir Tewas, AS Siap Gas Lagi

Nugroho Purbohandoyo
3 Min Read
Nicolas Maduro

AKARMEDIA, CARACAS – Situasi Venezuela makin panas setelah pernyataan Donald Trump yang bikin publik ternganga. Presiden Amerika Serikat itu secara terbuka mengakui, militer AS sebenarnya punya peluang untuk menghabisi Nicolas Maduro saat operasi penangkapan di Caracas.

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Trump bicara tanpa basa-basi. Menurutnya, skenario terburuk bisa saja terjadi jika kondisi di lapangan menuntut langkah ekstrem. Baginya, semua opsi terbuka selama misi dianggap perlu.

Trump mengungkapkan, Maduro sempat mencoba kabur ke area perlindungan yang diklaim superaman. Tempat itu disebut terbuat dari baja tebal dan dirancang untuk situasi darurat. Tapi rencana itu mentok.

Pasukan elite AS, Delta Force, bergerak super cepat. Maduro bahkan disebut belum sempat menyentuh pintu tempat aman tersebut karena operasi berlangsung kilat dan terkoordinasi.

Operasi itu sendiri tidak berjalan mulus tanpa perlawanan. Trump mengakui ada baku tembak dan resistensi dari pihak Venezuela. Meski sempat ada unsur kejutan, pasukan AS sudah bersiap menghadapi skenario terburuk.

Usai ditangkap, Maduro langsung diamankan dan dibawa ke kapal perang USS Iwo Jima. Foto dirinya dengan tangan diborgol dan mata tertutup sempat beredar luas di media sosial, memicu reaksi global.

Tak berhenti di situ, Trump juga memberi sinyal keras soal kemungkinan serangan lanjutan. Ia menyebut AS sudah bersiap dengan “gelombang kedua” jika keadaan di Venezuela kembali memanas.

Meski begitu, Trump mengklaim serangan awal berjalan sangat sukses. Keberhasilan itu, katanya, membuat peluang serangan lanjutan jadi lebih kecil, meski tetap disiapkan dengan skala lebih besar.

Trump menegaskan, operasi ini dianggap presisi dan tepat sasaran. Namun rencana militer ke depan masih fleksibel dan akan disesuaikan dengan dinamika di lapangan.

Soal alasan penangkapan, Trump kembali mengulang tuduhan lama. Maduro disebut memimpin negara narkoba, memanipulasi pemilu 2024, dan terlibat jaringan perdagangan kokain internasional.

Washington juga menuding Maduro punya kaitan dengan krisis fentanil di AS. Dua kelompok asal Venezuela bahkan sudah dilabeli sebagai organisasi teroris asing.

Sebaliknya, pemerintah Venezuela membantah keras semua tuduhan tersebut. Caracas menilai langkah AS sarat kepentingan politik dan ekonomi, terutama terkait cadangan minyak Venezuela yang jumbo.

Di tengah bantahan itu, satu hal jelas: penangkapan Maduro membuka babak baru ketegangan AS-Venezuela, dengan potensi eskalasi yang masih jauh dari kata selesai. (*)

Share This Article