Eks-Dubes Sorot Hubungan Diplomatik yang Retak: Iran Berkali-kali Dikecewakan Indonesia

Mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit, menyorot hubungan diplomatik Indonesia-Iran yang kini retak.

R. Izra
3 Min Read
Ilustrasi hubungan diplomatik Indonesia-Iran.

AKARMERDEKA, JAKARTA – Hubungan diplomatik Indonesia-Iran tampak baik-baik saja di permukaan. Namun, ada keretakan di dalam.

Iran disebut telah berkali-kali kecewa dengan Indonesia. Terlebih, hingga saat ini Dubes Iran untuk RI secara resmi belum pernah bertemu Presiden Prabowo Subianto.

Mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit, turut menyorot hubungan diplomatik Indonesia-Iran.

Dian menilai hubungan Indonesia dengan Iran tengah menghadapi persoalan serius akibat sejumlah keputusan diplomatik yang dianggap merugikan Teheran.

Baca Juga: Dubes Iran Sudah Temui Para Mantan tapi Belum Berjumpa Prabowo, Mengapa?

“Iran sudah berkali-kali, tolong dicatat, berkali-kali dikecewakan Indonesia,” kata Dian dalam acara Satu Meja The Forum Kompas TV, Rabu (24/6/2026).

Menurut Dian, di tengah mencairnya hubungan Amerika Serikat dan Iran, relasi Jakarta-Teheran justru masih menyisakan berbagai ganjalan.

Salah satunya adalah penahanan kapal tanker Iran di Batam sejak 2023. Dian menilai kasus tersebut masih dapat diperdebatkan dari sisi hukum internasional dan terus menjadi sumber ketegangan bilateral.

Ia juga menyinggung insiden pada Latihan Komodo 2025, ketika dua kapal perang Iran yang telah diundang mengikuti latihan gabungan justru diminta meninggalkan Indonesia setelah tiba.

“Iran diundang, sudah datang dengan dua kapal perangnya untuk ikut latihan. Begitu datang disuruh pulang karena Amerika tidak suka,” ujarnya.

Menurut Dian, keputusan itu mencederai etika diplomasi dan memperkuat kesan bahwa Indonesia mulai bergeser dari prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Baca Juga: Kapal Pertamina Tertahan di Hormuz, Iran Balas Dendam Kapal Tankernya Dilelang Kejaksaan?

Karena itu, jika pemerintah ingin memanfaatkan membaiknya hubungan AS-Iran untuk mengamankan pasokan energi nasional, Indonesia dinilai perlu lebih dulu memperbaiki hubungan dengan Teheran.

Salah satu langkah yang diusulkan adalah penyelesaian persoalan kapal tanker melalui mekanisme timbal balik atau resiprokal.

“Karena itu akan membantu kita membebaskan dua kapal tanker kita yang ditahan,” katanya.

Pernyataan Dian muncul setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepahaman awal dalam perundingan damai di Swiss yang dimediasi Pakistan dan Qatar.

Kedua negara sepakat menyusun perjanjian damai dalam waktu 60 hari, sebuah perkembangan yang dinilai dapat membuka kembali stabilitas jalur energi di kawasan, termasuk di Selat Hormuz.

Bagi Indonesia, momentum tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkuat ketahanan energi. Namun, menurut Dian, peluang itu akan sulit dimanfaatkan jika hubungan diplomatik dengan Iran belum dipulihkan. (*)

Share This Article