AKARMERDEKA, JAKARTA – Janji membangun mobil nasional masih sebatas wacana, tetapi keran impor kendaraan justru sudah keburu dibuka lebar.
Sebagian dari 105 ribu unit mobil impor untuk kebutuhan Agrinas dilaporkan sudah mulai masuk ke Indonesia. Gelombang pertama kendaraan itu tiba ketika pemerintah masih berbicara soal industrialisasi dan kemandirian otomotif nasional.
Bahkan, tak hanya mobil impor dari India, PT Agrinas Pangan Nusantara juga melakukan pengadaan sepeda motor roda tiga untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Baca Juga: Pikap Impor India Disorot, Industri Lokal Siap Gas
Baca Juga: BGN Bilang MBG Tak Ambil Dana Pendidikan, PDIP Membantah: APBN Jelas Sebut Angkanya
Sebagian kebutuhan tersebut didapat dari impor. Selain impor, motor tiga roda untuk kebutuhan Kopdes Merah Putih akan dipenuhi oleh pabrikan lokal.
“Sepeda motor tiga rodanya sama, (total berjumlah) 160 ribu juga. Dari semua produsen di Indonesia sudah kita pesan juga,” ujar Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota saat ditemui di Cawang, Jakarta Timur, Kamis (26/2/2026).
Situasi ini memunculkan ironi: di satu sisi pemerintah membuka jalan bagi mobil impor dalam jumlah besar, sementara di sisi lain ada janji politik untuk membangun mobil nasional dalam waktu singkat.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya pernah menyatakan bahwa Indonesia bisa memiliki mobil nasional dalam waktu tiga tahun. Pernyataan itu disampaikan sebagai bagian dari visi memperkuat industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada produk luar.
“Belum merupakan prestasi, tapi sudah kita mulai rintis. Kita akan punya mobil buatan Indonesia dalam tiga tahun yang akan datang,” ujar Prabowo, saat memberikan pengantar Sidang Kabinet dalam rangka satu tahun Prabowo-Gibran di Istana, Jakarta, Senin (20/10/2025).
Namun realitas di lapangan justru menunjukkan arah berbeda. Alih-alih mempercepat produksi kendaraan buatan dalam negeri, pemerintah malah mendatangkan puluhan ribu unit mobil dari luar negeri.
Masuknya kendaraan impor dalam jumlah besar itu pun memicu pertanyaan: di mana posisi industri otomotif nasional?
Jika target mobil nasional benar-benar serius dikerjakan, semestinya kebijakan diarahkan untuk memperkuat produksi dalam negeri, bukan membuka impor besar-besaran yang berpotensi mematikan ruang bagi industri lokal.
Tanpa roadmap yang jelas, janji mobil nasional berisiko menjadi sekadar slogan politik.
Apalagi sejarah mobil nasional di Indonesia sudah berkali-kali berakhir sebagai proyek yang gagal sebelum benar-benar berjalan.
Kini publik menunggu: apakah janji mobil nasional tiga tahun itu akan benar-benar diwujudkan, atau kembali menjadi cerita lama yang berulang.
Diberitakan sebelumnya, PT Agrinas Pangan Nusantara resmi mengimpor 105.000 unit kendaraan niaga asal India untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih dengan nilai kontrak mencapai Rp24,66 triliun.
Pengadaan skala jumbo ini melibatkan dua produsen otomotif besar India, yakni Mahindra & Mahindra dan Tata Motors.
Dari total tersebut, sebanyak 35.000 unit merupakan Scorpio Pick-Up produksi Mahindra. Sementara 70.000 unit lainnya dipasok oleh Tata Motors yang terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
Sebagai tahap awal realisasi kontrak, sebanyak 1.000 unit pikap telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan siap memasuki proses distribusi ke berbagai daerah. (*)

