Album Bocah 6 Tahun ‘Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)’ Mendadak Ditarik, Kritik Dibungkam?

R. Izra
2 Min Read
Pengumuman penarikan album 'Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)' ditarik dari peredaran, di semua platform digital.

AKARMERDEKA, JAKARTA — Sebuah album anak-anak tiba-tiba lenyap dari peredaran. Bukan karena sepi peminat, tapi karena dianggap memantik tafsir yang terlalu liar.

Album “Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)” milik penyanyi cilik Gandhi Sehat resmi ditarik dari seluruh platform digital. Usia Gandhi baru 6 tahun. Karyanya bahkan belum seumur jagung. Tapi polemik sudah keburu membesar.

Melalui pernyataan di Instagram, manajemen menyebut album itu sejak awal hanya dimaksudkan sebagai karya seni, cerita polos dari sudut pandang anak-anak.

Baca Juga: Mahfud MD Gabung Komite Reformasi Polri: Kesan Publik, Polisi Itu Memeras

Namun realitas berkata lain. Respons publik bermunculan, penafsiran melebar, dan ruang diskusi cepat memanas.

Keputusan pun diambil: distribusi dihentikan, seluruh konten dihapus. Manajemen menegaskan langkah tersebut bukan karena tekanan pihak mana pun. Mereka menyebut ini sebagai bentuk tanggung jawab kreator sekaligus upaya menghindari kesalahpahaman.

Pernyataan yang terdengar rapi, tapi menyisakan pertanyaan klasik: jika memang tak ada tekanan, mengapa harus buru-buru ditarik?

Fenomena ini terasa familiar. Publik belum lupa bagaimana lagu Bayar, Bayar, Bayar dari Sukatani sempat ramai lalu menghilang setelah liriknya dianggap menyenggol aparat kepolisian.

Baca Juga: Polri di Kementerian Peranan Wanita? Eks Kabareskrim: Tak Masalah, yang Penting Kinerjanya

Kini polanya terasa serupa, hanya skalanya berbeda. Dulu band punk. Sekarang anak kecil.

Bedanya satu: yang ini bahkan datang dari suara paling polos.

Yang jadi soal bukan semata lagu atau album. Ini tentang atmosfer kebebasan berekspresi yang tampak makin tipis. Kritik mudah dianggap serangan. Satire cepat dilabeli berbahaya. Bahkan imajinasi anak bisa berubah jadi kontroversi.

Pertanyaan besarnya: sejak kapan pilihan cita-cita seorang anak harus diperdebatkan?

Jika ruang seni terus menyempit karena takut disalahartikan, maka yang hilang bukan cuma sebuah album — tapi juga keberanian untuk bersuara.

Dan ketika karya anak-anak saja terasa “terlalu sensitif” untuk bertahan, mungkin masalahnya bukan pada lagunya.

Melainkan pada kita yang semakin tak siap mendengar apa pun yang terdengar seperti kritik. (*)

Share This Article