AKARMERDEKA, SEMARANG — Ambisi besar Kaesang Pangarep menjadikan Jawa Tengah sebagai “kandang gajah” sedang diuji dari dalam. Di saat PSI berupaya menggerus dominasi “kandang banteng”, justru fondasi internal di Semarang retak.
Puluhan pengurus dari 13 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Semarang kompak melepas jabatan, Minggu (22/2) malam.
Langkahnya bukan setengah hati. Sejumlah DPC bahkan mengembalikan papan nama partai ke kantor DPD sebagai simbol sikap politik. Ini bukan sekadar dinamika biasa. Ini sinyal perlawanan.
Baca Juga: Raja Juli: Pidato Jokowi Beri Sinyal Ajakan Relawan Bergabung ke PSI
Wakil Ketua DPD PSI Kota Semarang, Bayu Romawan, menyebut keputusan itu lahir dari kekecewaan yang menumpuk. Menurutnya, suara kader di tingkat bawah tak lagi didengar. Aspirasi macet di tengah jalan.
“Kami sepakat tidak lagi menjadi pengurus, tetapi tetap sebagai kader,” ujarnya.
Pemicu utamanya adalah pergantian kepemimpinan internal fraksi PSI di DPRD Kota Semarang yang dinilai tanpa dasar yang jelas. Bagi pengurus DPC, keputusan itu mencerminkan sentralisasi berlebihan, struktur bawah hanya jadi pelengkap administratif, bukan subjek politik.
Upaya komunikasi disebut sudah ditempuh. Dari DPW PSI Jawa Tengah hingga menghubungi pengurus pusat lewat berbagai jalur, termasuk pesan langsung media sosial. Hasilnya? Nihil.
Baca Juga: PSI Mau Jadi Rumah Bersama & Bermimpi Geser Dominasi PDIP, Pengamat: Gak Setara
“Seharusnya DPW menjadi jembatan antara kader di bawah dan DPP. Tapi tidak ada kejelasan,” kata Bayu.
Jika benar komunikasi tersumbat, maka problemnya bukan sekadar teknis. Ini menyentuh kultur organisasi: apakah PSI masih membuka ruang dialog, atau bergerak makin elitis?
Mimpi kandang gajah musnah?
Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai basis kuat PDI Perjuangan, identik dengan “kandang banteng”. Kaesang datang membawa misi membalik peta: menjadikan Jateng sebagai “kandang gajah”, simbol PSI.
Namun mimpi itu butuh mesin partai yang solid hingga level akar rumput. Mundurnya 13 DPC di ibu kota provinsi jelas bukan kabar baik. Ini memperlihatkan bahwa konsolidasi internal belum sepenuhnya tuntas.
Strategi ekspansi politik tak cukup dengan manuver nasional dan branding figur. Tanpa kepercayaan kader di daerah, ambisi sebesar apa pun akan pincang.
Para pengurus yang mundur memang menyatakan tetap menjadi kader. Tapi fakta bahwa mereka melepas jabatan struktural menunjukkan adanya krisis kepercayaan.
Pertanyaannya kini sederhana dan mendesak: bagaimana PSI hendak menaklukkan “kandang banteng” jika kandang sendiri mulai retak? (*)

