‘Sell Indonesia’ Menggema di Pasar Global, Investor Asing Kehilangan Kepercayaan

Pasar mulai gelisah sejak pemerintah makin agresif mendorong agenda populis, memperluas intervensi negara dalam ekonomi, hingga membangun berbagai proyek ambisius yang dinilai membebani fiskal.

R. Izra
5 Min Read
PASAR MODAL - Ilustrasi bursa saham Indonesia.

AKARMERDEKA, JAKARTA — Alarm bahaya untuk ekonomi Indonesia makin nyaring berbunyi. Di pasar global, seruan “Sell Indonesia” mulai menggema. Investor asing ramai-ramai hengkang setelah kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus merosot.

Dampaknya telak. Rupiah terjun bebas hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 30 persen sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu indeks saham dengan performa terburuk di dunia.

Data Bloomberg mencatat, hanya dalam lima bulan setelah sempat mencetak rekor tertinggi, pasar saham Indonesia anjlok 37 persen. Itu menjadi penurunan tercepat di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau.

Baca Juga: PBB Soroti Kasus Andrie Yunus, Narasi Dendam Pribadi Dinilai Tutupi Aktor Intelektual

Investor global kini melihat Indonesia bukan lagi sebagai pasar menjanjikan, melainkan kawasan berisiko tinggi dengan arah kebijakan yang makin sulit diprediksi.

“Tren utama di Asia saat ini adalah ‘Sell Indonesia’,” kata Kepala Riset K2 Asset Management, George Boubouras.

Boubouras bahkan mengaku sudah keluar total dari pasar Indonesia sejak 2024, setelah puluhan tahun menanam investasi di Tanah Air.

Krisis kepercayaan itu tidak muncul tiba-tiba. Pasar mulai gelisah sejak pemerintah makin agresif mendorong agenda populis, memperluas intervensi negara dalam ekonomi, hingga membangun berbagai proyek ambisius yang dinilai membebani fiskal.

Program makan gratis, ekspansi peran Danantara, hingga kebijakan pengambilalihan ekspor komoditas oleh negara dianggap memperbesar ketidakpastian pasar.

Situasi makin memburuk setelah Sri Mulyani Indrawati tak lagi berada di kursi Menteri Keuangan. Sosok yang selama ini dianggap sebagai jangkar disiplin fiskal itu dinilai menjadi penyeimbang kepercayaan investor selama bertahun-tahun. Kini, pasar melihat pagar pengaman itu mulai hilang.

“Ketidakpastian politik domestik adalah risiko khas pasar berkembang. Investor global biasanya memilih menunggu sampai ada kepastian,” kata Kepala Strategi Asia JPMorgan Private Bank, Yuxuan Tang.

Rupiah terus melemah sejak Prabowo menjabat

Rupiah menjadi simbol paling nyata dari kepanikan pasar. Sejak Prabowo menjabat Oktober 2024, nilai tukar rupiah sudah melemah sekitar 14 persen dan menjadi mata uang terburuk di Asia tahun ini.

Konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak memang ikut memberi tekanan. Namun pasar melihat masalah utama justru datang dari dalam negeri: ketidakjelasan arah kebijakan ekonomi dan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal.

Pasar opsi bahkan mulai memproyeksikan skenario yang lebih buruk. Ada peluang rupiah menyentuh Rp19.000 per dolar AS pada akhir tahun, bahkan Rp20.000 dalam 12 bulan ke depan.

Tak hanya saham dan rupiah, pasar obligasi juga terpukul. Investor asing tercatat sudah melepas obligasi pemerintah Indonesia senilai Rp86 triliun sejak Agustus tahun lalu.

Di saat yang sama, kepemilikan obligasi pemerintah oleh Bank Indonesia terus membengkak hingga sekitar 27 persen, angka yang dinilai tidak sehat untuk negara berkembang.

Baca Juga: Gak Mau Jadi Tumbal Sendirian, Sony akan Seret Nama Besar di Balik Korupsi Tata Kelola MBG

Banyak investor mulai mempertanyakan independensi bank sentral dan menganggap kondisi ini menyerupai praktik pembiayaan pemerintah secara terselubung.

“Yang menjadi perhatian adalah melemahnya rupiah serta kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah,” ujar Manajer Portofolio Allspring Global Investments, Gary Tan.

Di pasar saham, tekanan makin brutal setelah MSCI sempat memberi sinyal kemungkinan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Jika itu terjadi, reputasi pasar modal Indonesia akan jatuh drastis di mata investor global.

Masalahnya bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal eksekusi. Investor melihat terlalu banyak kebijakan diumumkan tanpa arah implementasi yang jelas. Mulai dari kontrol ekspor, pengelolaan Danantara, proyek belanja negara, hingga pemberantasan korupsi, semuanya dinilai penuh ketidakpastian.

“Kalau saya tidak bisa mempercayai plumbing-nya, saya tidak mau jadi orang terakhir yang keluar,” kata Chief Investment Officer Farringdon Asset Management, Ana Isabel Gonzalez Encinas.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih melihat Indonesia punya potensi jangka panjang. Ekonomi masih tumbuh di atas 5 persen, utang pemerintah relatif rendah, dan Indonesia tetap memegang posisi penting dalam rantai pasok global, terutama sebagai produsen nikel terbesar dunia.

Namun potensi saja tak cukup. Pasar kini menunggu satu hal paling mendasar, kepastian.

Kepastian arah fiskal. Kepastian independensi Bank Indonesia. Kepastian transparansi Danantara. Dan yang paling penting, kepastian bahwa kebijakan ekonomi tidak dijalankan secara serampangan.

Sebab selama kepastian itu belum kembali, investor global tampaknya memilih satu strategi sederhana: keluar dari Indonesia sebelum semuanya terlambat. (*)

Share This Article