AKARMERDEKA, SEMARANG– Pe,prov Jateng meminta penutupan sementara jalur pendakian di sejumlah gunung menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Gunung Lawu dan Gunung Sumbing. Pembatasan juga diarahkan pada aktivitas lain di kawasan lereng gunung untuk mencegah munculnya titik api baru.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan kebijakan tersebut menindaklanjuti masukan Polda Jateng agar pengelola taman nasional dan kawasan gunung membatasi aktivitas masyarakat.
Dugaan awal, kebakaran dipicu faktor manusia atau human error. Karena itu, aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk pendakian dan kegiatan pertanian yang menggunakan api, perlu diminimalkan.
“Harapannya, aktivitas di gunung bisa diminimalkan dan tidak menggunakan api di atas,” kata Bergas di Co-Working Space Rumah Rakyat, Kantor Gubernur Jateng, Kamis (22/10/2026).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng, Heru Djatmika, mengatakan pihaknya telah menerbitkan surat Nomor S/500.4/891/2026 tertanggal 21 Oktober 2026 tentang Penutupan Sementara Jalur Pendakian Gunung dan Penyiapan Lahan Tanpa Bakar.
Permintaan penutupan ditujukan untuk jalur pendakian Gunung Lawu, Merbabu, Sumbing, Sindoro, dan Slamet. DLHK juga telah berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional dan Perhutani, dengan tembusan kepada TNI dan Polri.
Status Siaga
Kebijakan ini didasarkan pada status siaga darurat kekeringan dan karhutla di Jawa Tengah pada 2026. Kebakaran dinilai mengancam keselamatan manusia, merusak ekosistem hutan lindung dan kawasan konservasi, serta menurunkan kualitas lingkungan.
Risiko tersebut terlihat saat kebakaran di Gunung Sumbing mengharuskan evakuasi 152 pendaki yang berada di kawasan tersebut. “Penutupan semua jalur pendakian ini kami maksudkan untuk mengeliminasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Heru.
Di tengah upaya pencegahan, pemadaman karhutla di Gunung Lawu, Sumbing, dan kawasan Gunung Pakuwaja di Dieng terus dilakukan. Bergas menjelaskan, penanganan di Lawu dilakukan melalui jalur darat dan udara menggunakan teknik water bombing.
Petugas juga membuat sekat untuk menghambat pergerakan api. Sejumlah titik kebakaran dilaporkan berada sekitar lima kilometer dari permukiman warga. Untuk Gunung Sumbing, pengajuan pemindahan satu helikopter dari Lawu telah disampaikan kepada BNPB guna mendukung pemadaman dari udara.
Sebelumnya, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa dua helikopter TNI disiapkan melalui BNPB untuk mendukung operasi pemadaman di Lawu dan Sumbing. Penanganan di kedua kawasan tersebut ditingkatkan menyusul penetapan status tanggap darurat.
Penutupan sementara jalur pendakian diharapkan dapat mengurangi risiko bagi masyarakat sekaligus memberi ruang bagi petugas untuk menangani kebakaran. Masyarakat diminta mematuhi pembatasan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api hingga kondisi dinyatakan aman. (tb)

