AKARMERDEKA, JAKARTA – Peta politik pelan-pelan berubah arah. Nama yang dulu selalu jadi magnet kini mulai jarang disamperi.
Setelah tak lagi menjabat, gerak Joko Widodo makin sering jadi bahan obrolan elite. Tapi nadanya sudah beda dari beberapa tahun lalu.
Beberapa partai terlihat menjaga jarak. Bukan frontal, tapi terasa dari komentar yang mulai dingin.
Direktur lembaga riset ABC Riset & Consulting, Erizal menilai situasinya berubah. “Bukan cuma satu dua tokoh, banyak yang sudah nggak seantusias dulu,” ujarnya.
Menurutnya, langkah politik Jokowi sekarang mudah ditebak. Tidak lagi penuh kejutan seperti saat masih berkuasa.
Isu yang bikin ramai salah satunya soal revisi UU KPK. Pernyataan Jokowi dianggap seperti ingin menjauh dari keputusan masa lalu.
Sekjen Partai Golkar, Sarmuji ikut menanggapi. Nada bicaranya menunjukkan jarak politik mulai terasa.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa, Abdullah juga senada. Ia menilai tak pantas jika tanggung jawab dilepas begitu saja.
“Yang bikin kebijakan dulu siapa, kok sekarang seperti bukan bagian,” kira-kira begitu pesan yang muncul. Kalimatnya nggak keras, tapi maknanya jelas.
Erizal bahkan menyebut perubahan sikap elite terlihat kolektif. “Sekarang orang lebih banyak nonton,” katanya.
Situasi ini juga dikaitkan dengan posisi pemerintahan baru. Banyak partai mulai fokus pada poros kekuasaan terkini.
Nama Prabowo Subianto otomatis jadi pusat perhatian baru. Arah dukungan bergerak mengikuti kekuatan.
Menurut pengamat, ini pola biasa dalam politik Indonesia. Setelah masa jabatan selesai, lingkar pengaruh biasanya ikut mengecil.
Namun bedanya, Jokowi masih aktif bermanuver. Ia masih sering bicara isu nasional.
“Jadi kelihatan siapa masih dekat, siapa mulai menjauh,” kata Erizal lagi. Ia menyebut gestur elite sekarang lebih terbaca.
Ia menambahkan, sebagian tokoh memilih diam dulu. Menunggu momentum yang tepat.
“Orang lain belum bergerak, tapi Jokowi sudah keliling kemana-mana,” ujarnya. Sindiran itu cukup terasa.
Pengamat menilai, ketika daya tawar menurun, relasi politik otomatis berubah. Bukan soal suka atau tidak.
Politik lebih soal kepentingan jangka depan. Loyalitas sering mengikuti peluang.
Karena itu, hubungan yang dulu tampak solid kini lebih cair. Bahkan civil society ikut menjaga jarak.
Apakah benar ditinggalkan sepenuhnya? Belum tentu. Tapi atmosfernya jelas tak lagi sama.
Yang dulu pusat orbit, sekarang hanya salah satu titik. Dan pergeseran itu mulai terlihat makin terang. (*)

