Taipan Dubai Murka, Negara-negara Teluk Mulai Keluhkan Perang AS-Israle vs Iran

R. Izra
3 Min Read
Asap hitam membumbung tinggi dari pangkalan militer AS di Kuwait yang diserang Iran.

AKARMERDEKA – Gelombang serangan rudal dan drone Iran ke negara-negara Teluk mulai memicu kemarahan di Uni Emirat Arab. Bukan hanya warga, kalangan pengusaha juga mulai terang-terangan mengkritik Amerika Serikat yang dianggap menyeret kawasan itu ke dalam konflik.

Serangan balasan Iran terjadi setelah operasi militer yang lebih dulu dilancarkan AS bersama Israel. Dampaknya, negara-negara Teluk kini harus menanggung risiko keamanan sekaligus guncangan ekonomi.

Kritik paling keras datang dari miliarder Dubai Khalaf Al Habtoor. Ia mempertanyakan legitimasi Washington memicu perang yang berimbas langsung pada kawasan Teluk.

Baca Juga: Memoles Citra dan Cari Panggung? Niat Prabowo Jadi Mediator Perang Iran-AS Tak Realistis

“Siapa yang memberi Anda kewenangan menyeret kawasan kami ke perang dengan Iran?” tulisnya di media sosial.

Menurutnya, keputusan Washington membuat negara-negara Arab berada di garis bahaya yang tidak pernah mereka pilih.

Padahal, UEA selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu paling dekat Presiden Donald Trump. Abu Dhabi bahkan menjanjikan investasi hingga USD 1,4 triliun ke AS dan membangun berbagai kerja sama bisnis, termasuk proyek yang melibatkan Trump Organization.

Namun konflik ini memperlihatkan satu kenyataan: kedekatan ekonomi ternyata tidak otomatis memberi pengaruh politik.

Ekonomi mulai terguncang

Dampak perang mulai terasa di berbagai sektor ekonomi Teluk, terutama di Dubai—pusat bisnis dan pariwisata kawasan.

Serangan drone dan rudal Iran memang sebagian besar berhasil dicegat, tetapi citra stabilitas kawasan yang selama ini menjadi magnet investor global mulai retak.

Pasar keuangan pun ikut goyah. Indeks saham Dubai menuju pekan terburuk sejak 2022.

Baca Juga: BGN Bilang MBG Tak Ambil Dana Pendidikan, PDIP Membantah: APBN Jelas Sebut Angkanya

Sektor perjalanan juga terpukul. Ribuan penumpang terlantar akibat gangguan penerbangan, sementara maskapai terpaksa memutar rute ke bandara di Arab Saudi dan Oman.

Pemerintah UEA bahkan tengah mencoba membangun koridor udara sementara agar penerbangan bisa beroperasi kembali dalam jendela waktu terbatas.

Di sisi lain, lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir terhenti. Jalur vital perdagangan minyak dunia itu kini berada di bawah bayang-bayang konflik, memicu lonjakan harga energi global.

Negara-negara teluk dalam posisi sulit

Ketegangan ini juga menimbulkan pertanyaan baru di Teluk: seberapa besar sebenarnya pengaruh investasi mereka di Washington?

Selain UEA, Qatar dan Arab Saudi juga telah menjanjikan investasi hampir USD 2 triliun di AS.

Namun keputusan Washington menyerang Iran menunjukkan bahwa uang besar belum tentu memberi hak veto dalam politik luar negeri Amerika.

Menurut analis keamanan di King’s College London, Andreas Krieg, investasi memang bisa membeli akses, tetapi tidak selalu bisa mengendalikan keputusan Gedung Putih.

“Janji investasi bisa membeli niat baik, tetapi tidak selalu membeli hak veto di Washington,” katanya.

Kini negara-negara Teluk berada dalam posisi sulit: mereka menentang eskalasi perang, tetapi tetap harus menghadapi dampaknya, baik secara keamanan maupun ekonomi.

Dan jika konflik terus berlarut, kawasan yang selama ini dipasarkan sebagai “oasis stabilitas” Timur Tengah bisa berubah menjadi garis depan perang berikutnya. (*)

Share This Article