Drama Kursi PM Israel Netanyahu Semakin Goyang: dari Kanker Prostat hingga Grasi Korupsi Ditolak

R. Izra
3 Min Read
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

AKARMERDEKA, TEL AVIV – Karier Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang berada di ujung tanduk. Bukan karena musuh luar, tapi karena badai di dalam negeri sendiri yang kini mengancam kursinya.

Netanyahu mengaku telah menjalani pengobatan kanker prostat stadium awal, Jumat (24/4/2026).

Tumor ganas kecil itu sudah diangkat melalui radiasi. Tapi yang bikin publik Israel geram: dia sengaja merahasiakan selama dua bulan.

Baca Juga: Iran Berduka Pasukan TNI Gugur di Lebanon: Ini Agresi Israel, Bukan Insiden

Alasannya? Takut dimanfaatkan Iran sebagai propaganda. Padahal, pemimpin yang suka ceramah soal keberanian dan ketahanan ini justru memilih sembunyi-sembunyi soal kesehatan pribadinya sendiri.

Sementara itu, di jalan-jalan Yerusalem dan Tel Aviv, gelombang demonstrasi besar-besaran terus mengguncang.

Ribuan warga turun ke jalan menuntut Netanyahu mundur segera. Isu kesehatan ini hanya menjadi pemicu terbaru. Yang utama tetap sama: kegagalan perang Gaza yang tak kunjung usai, korupsi yang tak terselesaikan, dan rasa lelah publik terhadap pemimpin yang sudah terlalu lama berkuasa.

Dan pukulan paling telak datang dari dalam istana sendiri. Presiden Israel Isaac Herzog secara tegas, saat ini menolak permohonan grasi (pengampunan) yang diajukan Netanyahu atas kasus korupsinya.

Baca Juga: Serangan Israel Dikecam DPR, Suara Kemanusiaan Makin Keras

Herzog bilang lebih baik selesaikan di pengadilan, bukan langsung kasih maaf presiden. Artinya: pintu penjara masih terbuka lebar bagi “Bibi”.

“Presiden Isaac Herzog menganggap solusi damai antara kedua belah pihak adalah kepentingan publik yang penting,” demikian pernyataan resmi Kantor Kepresidenan Herzog seperti dikutip The New York Times, Senin (27/4/2026).

Tiga bom meledak bersamaan

Ini bukan sekadar drama politik biasa. Ini adalah saat di mana tiga bom waktu meledak bersamaan di pangkuan Netanyahu: kesehatan yang rapuh, amarah rakyat yang sudah tak tertahankan, dan jerat hukum korupsi yang semakin mencekik.

Selama ini Netanyahu selalu mengklaim dirinya adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Israel. Kini, justru Israel yang mulai bertanya: bisakah negara ini diselamatkan dari Netanyahu?

Rakyat Israel sudah bicara di jalanan. Presiden sudah bicara soal grasi. Tinggal satu pertanyaan: berapa lama lagi “Bibi” bisa bertahan sebelum akhirnya terpaksa mundur, atau ditendang keluar dari kursi PM Israel?

Situasi ini bukan akhir dari karir Netanyahu. Tapi jelas ini adalah awal dari akhir. (*)

Share This Article