AKARMERDEKA, JAKARTA – Di tengah nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus level Rp17.949 per dolar AS selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 1447 Hijriah, Presiden Prabowo Subianto justru membuka keran impor pangan dari Prancis. Susu dan daging sapi asal negeri Eropa itu kini resmi mendapat akses lebih luas ke pasar Indonesia.
Keputusan tersebut diumumkan dalam kunjungan kenegaraan Prabowo ke Prancis dan langsung disambut antusias Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Kamis (28/5/2026).
“Betapa senangnya kami atas dibukanya pasar Indonesia bagi sektor susu dan daging sapi kami,” kata Macron.
Baca Juga: Jerit Petani Temanggung, Kehilangan Lahan Garapan demi Pembangunan Batalion TNI
Pernyataan itu terdengar sederhana. Tapi di balik diplomasi hangat dua kepala negara, publik melihat ironi yang makin telanjang: ketika rupiah melemah, impor justru diperluas.
Kebijakan ini memunculkan pertanyaan besar soal arah kedaulatan pangan yang selama ini digaungkan pemerintah. Sebab di saat peternak lokal masih bergulat dengan mahalnya pakan, biaya produksi, hingga minimnya perlindungan pasar, pemerintah malah memberi ruang lebih besar bagi produk peternakan asing masuk ke Indonesia.
Macron bahkan secara terbuka menyebut kebijakan itu sejalan dengan agenda ketahanan pangan pemerintahan Prabowo.
“Yang juga mendukung strategi kedaulatan pangan Anda, ambisi Anda untuk meningkatkan kualitas pangan rakyat Indonesia,” ujar Macron.
Namun di titik ini, publik pantas bertanya: kedaulatan pangan versi siapa? Sebab logika paling dasar dari kedaulatan pangan seharusnya memperkuat produksi dalam negeri, bukan memperbesar ketergantungan impor. Terlebih, transaksi impor dilakukan ketika rupiah sedang dalam kondisi rapuh terhadap dolar AS.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Gelombang PHK Besar-besaran Mengintai
Artinya, setiap pembelian produk luar negeri otomatis menjadi lebih mahal. Beban devisa meningkat, sementara tekanan terhadap ekonomi domestik makin berat. Yang diuntungkan jelas negara eksportir.
Prancis mendapat pasar baru. Industri peternakan mereka berkembang. Produk susu dan daging sapi mereka mendapat konsumen besar di Asia Tenggara. Sementara Indonesia kembali berada di posisi sebagai pasar.
Situasi ini juga berpotensi memukul peternak lokal yang selama bertahun-tahun kesulitan bersaing dengan produk impor. Ketika produk luar masuk dengan dukungan industri dan teknologi maju, peternak domestik makin terjepit dalam persaingan harga.
Ironisnya lagi, langkah impor ini muncul di tengah narasi besar pemerintah soal swasembada pangan dan kemandirian nasional yang selama ini terus dijual ke publik.
Dalam konferensi pers tersebut, Macron juga menegaskan Prancis ingin memperluas kerja sama ekonomi dengan Indonesia di berbagai sektor, mulai pangan, pertanian, hingga industri strategis lainnya.
Pernyataan itu menegaskan satu hal: Prancis sedang membaca Indonesia sebagai pasar potensial. Di sisi lain, pemerintah Indonesia tampaknya membuka pintu itu selebar-lebarnya. (*)

