Megawati-Hemas Buka Pameran Mata Hati Soekarno, Hadirkan Bung Karno di Tengah Krisis Bangsa

R. Izra
3 Min Read
HADIKARKAN SEMANGAT SOEKARNO - Pameran seni rupa 'Mata Hati Soekarno' menghadirkan semangat Bung Karno untuk menyelamatkan bangsa dari krisis.

AKARMERDEKA, YOGYAKARTA — Di tengah situasi bangsa yang dinilai makin kehilangan arah ideologi dan dipenuhi pragmatisme politik, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri membuka pameran seni rupa bertajuk Mata Hati Soekarno di Le Gareca Space, Bantul, Sabtu (6/6/2026).

Pameran yang digelar bertepatan dengan peringatan 125 tahun kelahiran Presiden pertama RI, Ir Soekarno, itu bukan sekadar agenda seni. Di ruang pameran itu, Bung Karno kembali dihadirkan sebagai simbol perlawanan terhadap lupa sejarah, kemiskinan gagasan, dan pudarnya watak kebangsaan.

Megawati tampak didampingi Permaisuri Karaton Yogyakarta, GKR Hemas. Sejumlah tokoh nasional dan elite politik PDIP juga hadir, di antaranya Hasto Kristiyanto, Mahfud MD, Ganjar Pranowo, Rano Karno, hingga kepala daerah dari DIY dan Jawa Tengah.

Pembukaan pameran ditandai dengan dibukanya pintu ruang pamer oleh Megawati bersama GKR Hemas dan budayawan Butet Kartaredjasa.

Baca Juga: Ganjar Sentil Sikap Elit Parpol: Revisi UU Pemilu Jangan Diserahkan ke Pemerintah

Butet menegaskan, pameran ini lahir dari kesadaran para seniman untuk menghormati Bung Karno bukan hanya sebagai presiden, tetapi sebagai penggali ideologi bangsa yang terus relevan di tengah zaman yang makin bising oleh kepentingan politik sesaat.

“Jangan hanya mewarisi abunya, tapi warisi apinya. Api Soekarno itulah yang ingin kami hidupkan kembali,” kata Butet.

Pernyataan itu terasa seperti kritik halus terhadap situasi nasional hari ini, ketika Pancasila kerap hanya menjadi slogan seremonial, sementara praktik kekuasaan justru menjauh dari cita-cita keadilan sosial yang diwariskan Bung Karno.

Sebanyak 47 perupa lintas generasi ikut ambil bagian dalam pameran ini. Mereka menghadirkan karya melalui medium lukisan, grafis, dan gambar yang mencoba membaca ulang sosok Soekarno dari berbagai sudut pandang.

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menyebut Bung Karno bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan energi kebangsaan yang belum pernah benar-benar padam.

Baca Juga: Kertajati Mau Disulap Jadi Bengkel Pesawat Militer AS, Pakar Peringatkan Risiko Pertahanan

“Bung Karno adalah air, tanah, angin, dan api. Ia terus menghidupi harapan sampai hari ini,” ujarnya.

Menurut Suwarno, pameran ini sengaja dirancang bukan hanya untuk memajang karya seni, tetapi membuka ruang dialog publik tentang relevansi pemikiran Bung Karno di tengah tantangan Indonesia hari ini.

Sebab lebih dari setengah abad setelah wafatnya, gagasan Soekarno soal kedaulatan, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan martabat bangsa justru terasa makin relevan ketika ketimpangan ekonomi, oligarki politik, dan ketergantungan asing kembali menguat.

Pameran Mata Hati Soekarno pun menjadi lebih dari sekadar peristiwa budaya. Ia menjelma pengingat bahwa bangsa ini pernah memiliki fondasi ideologi yang kuat, dan kini sedang diuji, apakah masih mau menjaganya atau perlahan melupakannya. (*)

Share This Article