MBG Dinilai Belum Nendang ke Sektor Utama

Pertumbuhan sektor akomodasi serta makanan dan minuman terlihat cukup menonjol sejak program berjalan. Meski begitu, kondisi tersebut belum diikuti lonjakan berarti pada industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan.

Nugroho Purbohandoyo
4 Min Read
Ilustrasi Makanan Bergizi Gratis (MBG)

AKARMERDEKA, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang mulai bikin roda bisnis makanan berputar lebih kencang. Namun, efek besarnya ke sektor-sektor utama ekonomi nasional ternyata masih belum terasa signifikan.

Pertumbuhan sektor akomodasi serta makanan dan minuman terlihat cukup menonjol sejak program berjalan. Meski begitu, kondisi tersebut belum diikuti lonjakan berarti pada industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan.

Analis Ekonomi Politik Lab 45, Nadia Restu Utami, menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Sebab, tiga sektor tersebut seharusnya bisa ikut kecipratan dampak dari besarnya aktivitas ekonomi yang muncul lewat MBG.

Menurut Nadia, pertumbuhan sektor akomodasi dan makanan-minuman memang cukup drastis. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mengaitkan pertumbuhan sektor tersebut dengan pelaksanaan program MBG.

“Ternyata akomodasi makanan dan minuman itu tumbuh drastis. Dan BPS bilang itu karena adanya MBG,” ujar Nadia melalui kanal YouTube Bambang Widjojanto, Kamis (20/8/2026).

Namun, Nadia mengingatkan bahwa ramainya bisnis makanan belum cukup untuk menyebut MBG berhasil menggerakkan perekonomian secara luas. Dampaknya semestinya bisa terasa sampai sektor yang berada di belakang meja makan.

Ia mencontohkan industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan. Menurutnya, ketiga sektor itu justru punya posisi penting sebagai penggerak ekonomi dari sisi lapangan usaha.

“Harusnya yang ditopang atau digalakkan, didorong itu adalah industri sektor pengolahan kemudian pertanian dan ketiga adalah perdagangan,” katanya.

Sayangnya, pertumbuhan di tiga sektor tersebut dinilai belum menunjukkan dorongan yang cukup kuat. Artinya, efek MBG masih terlihat lebih dominan di bagian hilir ketimbang sektor produksi dan distribusi.

Nadia menyebut kondisi ini patut dievaluasi. Jangan sampai anggaran besar yang berputar lewat MBG hanya menguntungkan pelaku usaha makanan, sementara petani, industri pengolahan, dan jalur perdagangan belum mendapatkan efek yang sama.

Menurut dia, sektor makanan dan minuman memang menjadi bagian yang paling mudah menangkap dampak MBG. Banyak UMKM dan pelaku usaha kuliner terlibat langsung dalam penyediaan makanan bagi penerima program.

“Dengan kata lain MBG justru tidak meningkatkan pertumbuhan di sektor yang tiga tadi. Karena tertangkapnya di akomodasi makanan dan minuman karena makanan unsurnya dari sisi UMKM dan pelaku usaha di sektor makanan,” tandas Nadia.

Karena itu, dampak ekonomi MBG dinilai perlu dihitung dari hulu sampai hilir. Bukan cuma melihat siapa yang memasak dan menyajikan makanan, tetapi juga siapa yang menanam bahan pangan, mengolahnya, mendistribusikan, hingga menjualnya.

Jika rantai tersebut bisa dibuat lebih terhubung, MBG berpotensi memberi efek ekonomi yang lebih luas. Petani mendapat pasar, industri pengolahan ikut bergerak, distribusi makin hidup, dan perdagangan pun mendapat tambahan aktivitas.

Sebaliknya, kalau rantai pasoknya tidak diperkuat, pertumbuhan ekonomi yang muncul dari MBG berisiko hanya terkonsentrasi di sektor makanan dan minuman. Dampaknya terhadap mesin ekonomi nasional pun bisa tetap terbatas.

Nadia pun mendorong agar pemerintah tidak hanya melihat keberhasilan MBG dari jumlah penerima manfaat atau banyaknya makanan yang tersalurkan. Efek program terhadap struktur ekonomi juga perlu menjadi bagian dari evaluasi.

Dengan begitu, MBG tak cuma ramai di meja makan, tetapi juga benar-benar mampu menggerakkan sektor produksi dan usaha yang lebih luas. (*)

Share This Article