AKARMERDEKA, JAKARTA – Wacana Presiden Prabowo Subianto menjadi mediator konflik antara Iran dan Amerika Serikat menuai kritik tajam. Di tengah memanasnya konflik setelah serangan Israel dan Amerika ke Iran, gagasan itu dinilai lebih menyerupai upaya memoles citra politik ketimbang langkah diplomasi yang realistis.
Kementerian Luar Negeri sebelumnya menyatakan Presiden Prabowo siap memfasilitasi dialog guna meredakan konflik. Bahkan, jika kedua pihak setuju, Prabowo disebut bersedia terbang langsung ke Teheran untuk melakukan mediasi.
Namun pernyataan itu langsung memicu tanda tanya. Banyak pihak menilai tawaran tersebut jauh dari realitas geopolitik yang sedang berlangsung.
Baca Juga: MUI Sorot Tajam Kesepakatan Prabowo-Trump: Ini Perjanjian Dagang atau Penjajahan?
Baca Juga: Agrinas Impor 105.000 Pikap dari India, Bagaimana Janji Prabowo Bikin Mobil Nasional?
Peneliti dari PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama, melihat wacana mediasi itu sebagai langkah mencari panggung internasional.
Menurutnya, gagasan tersebut tidak lahir dari strategi diplomasi yang matang, melainkan dari kebutuhan membangun citra politik di tengah tekanan situasi global.
“Ini bukan lagi soal strategi diplomasi Indonesia yang konsisten, tapi lebih ke upaya memoles citra di tengah krisis,” ujarnya.
Ia bahkan menyindir, jika benar ingin menghentikan perang, seharusnya Indonesia mendatangi Amerika dan Israel untuk menekan mereka agar menghentikan serangan terhadap Iran.
Virdika juga menilai posisi diplomasi Indonesia saat ini tidak lagi sepenuhnya netral. Bergabungnya Indonesia dalam Dewan Perdamaian bentukan Trump, menurutnya, membuat klaim sebagai mediator independen sulit dipercaya.
“Bagaimana mungkin negara yang sudah beraliansi dengan salah satu pihak yang terlibat konflik bisa dipercaya menjadi penengah yang jujur?” katanya.
Gagasan tanpa penyaringan
Mantan diplomat Indonesia, Dino Patti Djalal, termasuk yang paling keras mengkritik. Ia mempertanyakan mengapa gagasan tersebut diumumkan tanpa penyaringan yang matang.
Menurutnya, hampir mustahil Indonesia menjadi mediator dalam konflik sebesar ini. Amerika Serikat, kata Dino, hampir tidak pernah tunduk pada pihak ketiga, apalagi dalam situasi perang terbuka.
“Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu,” ujarnya.
Selain itu, hubungan diplomatik Indonesia dengan Iran juga tidak berada pada posisi yang cukup kuat untuk memainkan peran penengah. Belum lagi kemungkinan Indonesia harus berhadapan langsung dengan aktor-aktor kunci konflik seperti Donald Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, hingga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Secara politik maupun logistik, skenario tersebut dinilai nyaris mustahil. Bahkan Dino menyebut langkah itu bisa berujung “bunuh diri politik” bagi Prabowo di dalam negeri.
Alih-alih menawarkan diri sebagai mediator, ia menilai Indonesia seharusnya mengambil sikap yang jelas terhadap konflik tersebut.
Sekadar gimmick diplomasi
Pandangan serupa datang dari pengamat pertahanan Made Supriatma. Ia menyebut tawaran menjadi mediator sebagai sekadar gimmick politik.
Menurut Made, Indonesia tidak memiliki modal yang cukup untuk memainkan peran penengah dalam konflik besar tersebut—baik dari sisi pengaruh politik global, kekuatan ekonomi-militer, maupun jaringan komunikasi dengan pihak-pihak yang terlibat.
Dalam konteks perang terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, ruang diplomasi dinilai semakin sempit. Konflik ini bukan sekadar perebutan kepentingan, melainkan pertarungan yang menyasar struktur kekuasaan sebuah negara.
“Amerika dan Israel sudah perang terbuka dan terus membunuh pemimpin satu negara. Apa lagi yang mau dinegosiasikan?” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, tawaran mediasi dari Jakarta terlihat lebih seperti manuver simbolik daripada langkah diplomasi yang benar-benar berpeluang menghentikan konflik.
Di tengah eskalasi perang dan ketidakpastian global, wacana Presiden Prabowo terbang ke Teheran justru memunculkan pertanyaan baru: apakah ini benar langkah diplomasi serius, atau sekadar panggung untuk mempercantik citra Indonesia di mata dunia. (*)

