Menakar Peluang Capres PDIP di Pilpres 2029, Pengamat: Belum Ada Sosok Kuat

R. Izra
3 Min Read
Ilustrasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

AKARMERDEKA, JAKARTA – Peluang PDI Perjuangan untuk mengusung kandidat kuat di Pilpres 2029 masih gelap. Sampai hari ini, belum terlihat figur yang benar-benar siap bertarung di level nasional.

Pengamat politik Yunarto Wijaya menilai, kader-kader PDIP yang ada justru menunjukkan keterbatasan masing-masing. Sementara di sisi lain, Prabowo Subianto hampir pasti akan kembali maju untuk periode kedua.

“Dalam konteks menjadi capres, belum ada,” kata Yunarto.

  • Ganjar: Ruang Gerak Sempit, Elektabilitas Stagnan

Nama Ganjar Pranowo yang sempat maju di Pilpres 2024 justru dinilai tidak mengalami perkembangan signifikan.

Masalah utamanya ada di posisi politik. Ganjar tidak memiliki kontrol strategis di internal partai, sehingga langkah politiknya terbatas.

Baca Juga: PDIP Tegas: Kader Nggak Boleh Main Bisnis MBG

Setiap manuvernya juga kerap dibaca publik sebagai ambisi maju lagi di Pilpres, yang justru berdampak negatif pada elektabilitasnya.

Singkatnya, Ganjar bergerak, tapi ruangnya sempit, dan efeknya minim. Belum jadi sosok kuat untuk jadi kandidat Capres PDIP di 2029.

  • Puan: Terjebak di Tengah, Tak Dapat Kredit

Sementara itu, Puan Maharani menghadapi dilema yang berbeda. Posisi sebagai Ketua DPR membuatnya terlalu dekat dengan pemerintah.

Akibatnya, citra politiknya jadi “nanggung”. Saat pemerintah berhasil, ia tidak mendapat kredit. Saat pemerintah dikritik, posisinya tidak cukup kuat untuk menjadi oposisi.

Baca Juga: PDIP Makin Ramai, Tiga Eks PSI Resmi Merapat

Kondisi ini membuat Puan sulit membangun narasi politik yang tegas—baik sebagai pendukung maupun penantang kekuasaan.

  • Pramono: Realistis di Posisi Dua

Nama Pramono Anung juga masuk radar. Namun, gaya politiknya yang cenderung low profile dinilai bukan tipikal kandidat presiden.

Pramono lebih memilih bekerja ketimbang membangun pencitraan politik agresif.

Yunarto melihat, peluang paling realistis bagi Pramono bukan sebagai capres, melainkan calon wakil presiden.

“Kalau ada di panggung 2029, lebih ke nomor dua,” ujarnya.

Situasi ini memperlihatkan satu hal: PDIP belum punya figur dominan untuk menghadapi Pilpres 2029.

Di tengah absennya kandidat kuat, peta politik justru condong ke arah petahana. Jika Prabowo Subianto benar maju lagi, kompetisi berpotensi timpang sejak awal.

Tanpa konsolidasi dan keberanian memunculkan figur baru, PDIP berisiko hanya jadi penonton dalam kontestasi lima tahunan itu. (*)

Share This Article