AKARMERDEKA, TEHERAN — Iran resmi memiliki pemimpin tertinggi baru setelah kematian Ali Khamenei dalam serangan udara yang memperuncing konflik Timur Tengah. Majelis Ahli Iran menunjuk putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai penerus kursi kekuasaan paling kuat di Republik Islam.
Penunjukan ini menegaskan bahwa kelompok garis keras masih mendominasi struktur kekuasaan di Teheran, bahkan di tengah tekanan geopolitik dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Seorang anggota Majelis Ahli, Mohsen Heidari Alekasir, menyebut pemilihan kandidat merujuk pada arahan Ali Khamenei sebelum wafat: pemimpin tertinggi Iran seharusnya bukan sosok yang disukai musuh negara.
Baca Juga: Taipan Dubai Murka, Negara-negara Teluk Mulai Keluhkan Perang AS-Israle vs Iran
Pernyataan itu sekaligus menyindir komentar Donald Trump yang sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai figur yang “tidak dapat diterima” untuk memimpin Iran.
Selama bertahun-tahun, Mojtaba dikenal sebagai figur berpengaruh di balik pemerintahan ayahnya. Ia memperkuat posisinya melalui jaringan ulama konservatif dan kedekatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Pengaruh tersebut membuatnya memiliki basis dukungan kuat di dalam struktur keamanan Iran.
Di Iran, pemimpin tertinggi memiliki kewenangan tertinggi dalam menentukan arah negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir.
Sosok yang sangat dibenci AS
Pengangkatan Mojtaba juga memicu kritik karena dianggap membuka jalan bagi politik dinasti di negara yang lahir dari Iranian Revolution 1979 yang menggulingkan monarki Mohammad Reza Pahlavi.
Selain itu, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan dan hanya menyandang gelar keagamaan Hojjatoleslam, satu tingkat di bawah Ayatollah.
Baca Juga: Memoles Citra dan Cari Panggung? Niat Prabowo Jadi Mediator Perang Iran-AS Tak Realistis
Namun jaringan politik dan dukungan aparat keamanan membuatnya tetap menjadi kandidat paling kuat.
Hubungan Mojtaba dengan Washington sudah lama tegang. Pada 2019, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepadanya karena dianggap berperan sebagai perpanjangan tangan Ali Khamenei dalam mengendalikan jaringan keamanan dan politik Iran.
Kini, dengan Mojtaba di puncak kekuasaan, Iran diperkirakan akan tetap berada di jalur konfrontatif terhadap Barat, sebuah arah yang justru dianggap sebagai legitimasi oleh kelompok garis keras di Teheran. (*)

