Bloomberg Sorot Guncangan Ekonomi Indonesia: Prabowo Lebih Percaya ‘Hambalang Boys’

Bloomberg ungkap guncangan ekonomi Indonesia karena inner circle Prabowo. Presiden lebih percaya Hambalang Boys daripada ahli dan teknokrat.

R. Izra
4 Min Read
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Michael Bloomberg beserta delegasi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (18/11/2025). (Setneg)

AKARMERDEKA, JAKARTA – Lingkaran dalam atau inner circle Presiden Prabowo Subianto bikin investor gelisah dan pasar pelan-pelan kehilangan kepercayaan. Mengapa?

Media keuangan global Bloomberg menyoroti meningkatnya kekhawatiran investor terhadap pola pengambilan kebijakan di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam laporan yang terbit 16 Juni 2026, Bloomberg menilai menguatnya pengaruh lingkaran dalam Presiden memicu ketidakpastian kebijakan yang akhirnya berdampak pada pasar keuangan Indonesia.

Menurut Bloomberg, investor tidak hanya mencermati isi kebijakan pemerintah, tetapi juga bagaimana kebijakan tersebut dibuat. Menguatnya peran orang-orang terdekat Presiden dinilai membuat peran teknokrat semakin berkurang, sementara sejumlah kebijakan muncul secara cepat dan kerap sulit diprediksi pasar.

Baca Juga: Budiman Bela Mati-matian MBG: Hentikan Program Salahi UU, Langgar Janji Presiden

Salah satu yang menjadi sorotan adalah rencana pemerintah memperketat kontrol negara atas komoditas strategis seperti batu bara dan minyak sawit melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).

Pemerintah beralasan kebijakan itu diperlukan untuk menekan kebocoran devisa akibat praktik transfer pricing dan under-invoicing. Namun, investor justru khawatir langkah tersebut membuka ruang intervensi negara yang lebih besar terhadap mekanisme pasar dan kontrak bisnis yang telah berjalan.

Kekhawatiran itu muncul di tengah kebutuhan pendanaan program-program besar pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kombinasi ketidakpastian regulasi dan kebutuhan belanja negara yang besar mendorong investor mengambil posisi hati-hati. Bloomberg mencatat kondisi tersebut ikut memicu arus keluar modal asing, koreksi pasar saham, serta tekanan terhadap rupiah yang sempat mendekati level Rp18.000 per dolar AS sebelum diintervensi Bank Indonesia.

Head of FX and EM Macro Strategy Barclays Plc, Mitul Kotecha, mengatakan investor masih menunggu kejelasan mengenai bagaimana pemerintah akan menjaga keseimbangan antara program belanja ambisius dan disiplin fiskal.

Senada, Head of Research Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, menilai pasar saat ini tengah memberikan premi risiko yang lebih tinggi terhadap Indonesia karena belum melihat kerangka institusional yang jelas untuk berbagai kebijakan baru pemerintah.

Pengaruh “Hambalang Boys”

Bloomberg juga menyoroti kecenderungan Prabowo mengambil keputusan strategis bersama lingkaran kecil penasihat terdekatnya.

Nama Hashim Djojohadikusumo hingga kelompok loyalis muda yang dijuluki “Hambalang Boys” disebut memiliki pengaruh besar terhadap akses informasi dan komunikasi dengan Presiden. Salah satu figur yang mendapat perhatian adalah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Menurut Bloomberg, kondisi ini memunculkan risiko groupthink, yakni situasi ketika lingkungan pengambil keputusan terlalu homogen dan minim kritik internal sehingga kebijakan besar berpotensi lahir tanpa proses evaluasi yang cukup.

Bagi investor, persoalannya bukan siapa yang berada di sekitar Presiden, melainkan apakah keputusan strategis negara dibuat melalui proses yang transparan, melibatkan teknokrat, dan dapat diprediksi pasar.

Baca Juga: Menanti Putusan MSCI, Investor Menunggu Kepastian Kebijakan Pemerintah

Bloomberg menyimpulkan gejolak yang terjadi pada rupiah dan pasar saham Indonesia tidak semata-mata dipicu faktor global seperti menguatnya dolar AS.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah benturan antara ambisi nasionalisme ekonomi pemerintah dengan kebutuhan Indonesia untuk tetap menarik investasi asing.

Di satu sisi pemerintah ingin memperbesar kontrol negara atas sektor-sektor strategis. Namun di sisi lain, Indonesia tetap membutuhkan kepercayaan investor untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan membiayai berbagai program prioritas.

Karena itu, menurut Bloomberg, persoalan terbesar yang kini dihadapi Indonesia bukan hanya soal pasar atau nilai tukar rupiah, melainkan soal kepastian arah kebijakan dan kepercayaan investor terhadap tata kelola pemerintahan. (*)

Share This Article