Sebut NU Tempat Belajar Politik, Prabowo: di Istana Nanti Kiai Patuh sama Saya

Presiden Prabowo Subianto menyebut, NU tempat terbaik untuk belajar politik. Ia juga menyebut harus mematuhi petuah ulama, tapi saat di Istana negara, ulama harus patuh kepadanya.

R. Izra
3 Min Read
TUTUP MUNAS ULAMA NU - Presiden Prabowo Subianto menutup gelaran konbes dan munas NU di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

AKARMERDEKA, BANGKALAN – Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan yang mengundang tawa peserta Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2026 di Bangkalan, Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Prabowo berseloroh bahwa para kiai dan ulama harus mematuhinya ketika berada di lingkungan Istana Kepresidenan.

“Harus patuh sama kiai kalau di sini. Di Istana nanti kiai patuh sama saya,” kata Prabowo disambut gelak tawa peserta acara, Selasa (23/6/2026).

Baca Juga: Bloomberg Sorot Guncangan Ekonomi Indonesia: Prabowo Lebih Percaya ‘Hambalang Boys’

Meski disampaikan dalam nada bercanda, pernyataan itu kemudian diikuti penegasan mengenai pentingnya hubungan harmonis antara ulama dan pemerintah. Menurut Prabowo, sinergi antara pemuka agama dan pemegang kekuasaan merupakan modal penting bagi bangsa.

“Itu namanya ulama dan umara bersatu untuk negara dan bangsa,” ujarnya.

NU tempat belajar politik

Di hadapan para kiai dan pengurus NU, Prabowo juga menyoroti kuatnya pengaruh politik organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Ia bahkan berkelakar bahwa NU merupakan tempat terbaik untuk belajar politik.

Pernyataan itu muncul ketika Prabowo menyapa sejumlah menteri Kabinet Merah Putih yang berasal dari lingkungan NU dan hadir dalam acara tersebut.

Di antaranya Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar.

“Ini Kabinet Merah Putih banyak sekali NU-nya,” kata Prabowo.

Menurut Ketua Umum Partai Gerindra itu, kekuatan NU tidak hanya terletak pada jumlah anggotanya, tetapi juga pada kemampuannya menempatkan kader di berbagai ruang politik dan pemerintahan.

“NU memang hebat. Selalu berada di mana-mana. Semua partai, NU hadir. Jadi NU enggak pernah kalah. Kalau belajar politik sebetulnya harus dari NU,” ujarnya.

Baca Juga: Mahasiswa Trisakti Gaungkan Tritura Baru saat Demonstrai di DPR, Apa Isinya?

Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan posisi strategis NU dalam peta politik nasional. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, pengaruh NU tidak hanya terasa di ranah sosial dan keagamaan, tetapi juga menjangkau berbagai partai politik, lembaga negara, hingga kabinet pemerintahan.

Karena itu, candaan Prabowo soal kiai yang “patuh di Istana” dan NU sebagai “sekolah politik” tidak sekadar memancing tawa peserta. Ada pertanyaan besar di sana, apakah NU lebih politis ketimbang partai politik? (*)

Share This Article