AKARMERDEKA, JAKARTA – Indonesia mendapat undangan resmi untuk menghadiri pemakaman agung emimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Alih-alih mengirimkan delegeasi resmi tingkat tinggi ke Iran, pemerintah Indonesia hanya mengirimkan Duta Besar Indonesia untuk Iran sebagai perwakilan.
Sementara banyak negara lain mengirimkan utusan resmi tingkat tinggi, bukan sekadar mengirimkan dubes mereka. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan dan langkah diplomatik cerdas.
Baca Juga: 20 Juta Pelayat Diperkirakan Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Iran Perketat Keamanan
Keputusan Presiden Prabowo Subianto tak mengirimkan delegasi khusus tingkat tinggi mendapat kritik tajam dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal.
Dino menilai langkah rezim pemerintahan Indonesia tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai konsistensi politik luar negeri Indonesia yang selama ini mengusung prinsip bebas aktif.
“Apakah ini berarti politik luar negeri bebas aktif kita mulai luntur karena Indonesia takut atau sungkan terhadap Amerika? Apakah rasa takut (fear) kini menjadi faktor dalam politik luar negeri Indonesia?” tulis Dino melalui akun media sosial X.
Iran pantas kecewa
Dino mengungkapkan, pemerintah Iran disebut telah berulang kali menyampaikan undangan resmi kepada Indonesia agar mengirimkan delegasi ke upacara pemakaman Khamenei.
Namun, undangan tersebut pada akhirnya hanya direspons dengan kehadiran Duta Besar RI di Teheran. Sikap itu, menurut informasi yang diterimanya, dipandang Iran sebagai bentuk kurangnya penghormatan terhadap hubungan kedua negara.
Ia menyoroti fakta bahwa sejumlah negara lain, seperti Arab Saudi, Turki, Qatar, Oman, Pakistan, Rusia, Tiongkok, hingga Malaysia, tetap mengirimkan delegasi resmi. Bahkan Pakistan mengutus delegasi setingkat presiden.
Dengan kondisi itu, Indonesia disebut menjadi satu-satunya negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang tidak mengirimkan utusan khusus.
Bagi Dino, persoalan ini bukan sekadar absennya pejabat Indonesia di sebuah upacara kenegaraan, melainkan menyangkut arah diplomasi Indonesia.
Baca Juga: Eks-Dubes Sorot Hubungan Diplomatik yang Retak: Iran Berkali-kali Dikecewakan Indonesia
Ia mempertanyakan apakah keputusan tersebut dipengaruhi pertimbangan geopolitik, khususnya hubungan dengan Amerika Serikat, atau justru mencerminkan lemahnya pengambilan keputusan dalam birokrasi diplomasi Indonesia.
“Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan manajemen sistem politik luar negeri yang bermasalah? Sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yang berani mengambil keputusan,” kritiknya.
Dino juga menilai pemerintah sebenarnya memiliki opsi untuk mengirim Wakil Menteri Luar Negeri yang membidangi kawasan dunia Islam, Anis Matta, yang saat itu tengah melakukan kunjungan ke Asia Tengah.
Momentum dipolomasi hilang
Menurut Dino, Iran merupakan salah satu sahabat lama Indonesia yang selama ini memiliki hubungan baik tanpa sejarah konflik bilateral.
Karena itu, kehadiran delegasi resmi dinilai bisa menjadi simbol penghormatan terhadap hubungan kedua negara sekaligus menunjukkan konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif.
Selain itu, kehadiran Indonesia juga dinilai dapat menjadi sinyal diplomatik atas penolakan terhadap tindakan militer yang menyebabkan tewasnya Ayatollah Khamenei, yang oleh banyak pihak dipandang sebagai pelanggaran hukum internasional.
“Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dalam situasi yang sensitif, kita bersembunyi. Ingat, bebas aktif adalah diplomasi berprinsip, bukan diplomasi sungkan,” tegas Dino.
Meski demikian, kritik Dino merupakan pandangan pribadi sebagai mantan diplomat. Hingga kini, pemerintah belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan tidak mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. (*)

