BACAAJA, JAKARTA – Taman Ismail Marzuki (TIM) dulunya adalah rumah seniman menggelar pentas yang terjangkau. Namun, kini nuansa TIM sebagai sanggar seniman rakyat mulai terkikis.
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri meminta Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengembalikan fungsi Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai ruang berkesenian yang terbuka bagi para seniman. Menurutnya, TIM kini sudah kehilangan ruhnya dan terasa terlalu “borjuis”.
Permintaan itu disampaikan Megawati saat membuka pameran sejarah dan arsip foto Meretas Jalan Demokrasi dalam rangka memperingati 30 tahun Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli) di TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).
Baca Juga: Lepas WNI Kini Berbayar Mahal, Puan Maharani Angkat Bicara
“Saya memberikan tugas kepada mereka berdua (Pramono dan Rano Karno). Saya bilang, ‘Itu namanya TIM itu mbok dikembalikan seperti apa adanya’,” kata Megawati.
Megawati mengaku banyak menerima keluhan dari para pelaku seni yang kini kesulitan mendapatkan ruang pertunjukan. Menurutnya, kondisi tersebut membuat seniman semakin sulit menampilkan karya mereka kepada masyarakat.
“Sekarang ini kalau seniman mau pentas saja, untuk ruang pentasnya saja sudah membuat pusing kepalanya,” ujarnya.
Ia kemudian mengenang suasana TIM pada masa lalu yang dinilai jauh lebih hidup dan dekat dengan masyarakat. Saat itu, kata Megawati, teater terbuka selalu dipenuhi penonton karena tiketnya murah dan mudah diakses semua kalangan.
“Saya suka nonton teater terbuka. Selalu ramai karena harganya murah meriah,” kenangnya.
Baca Juga: Monumen Kudatuli Siap Berdiri di Markas PDIP
Namun, suasana itu kini dinilainya telah berubah. Bahkan, Megawati mengaku sempat enggan datang lagi ke TIM karena merasa tempat tersebut sudah tidak lagi ramah bagi masyarakat umum.
“Saya enggak mau pergi ke TIM. Karena sudah menjadi beda. Saya boleh bilang, suasananya jadi borjuis,” katanya.
Menurut Megawati, perubahan tersebut membuat masyarakat kehilangan ruang untuk menikmati pertunjukan seni seperti dulu.
Karena itu, ia mengingatkan Pramono Anung agar mengembalikan TIM sebagai rumah bagi para seniman, tempat mereka bebas berkarya dan menampilkan kreativitas tanpa dibebani berbagai kendala.
“Awas lo ya, kalau kamu tidak membuat TIM ini menjadi sebuah tempat bagi para seniman yang ingin menampilkan kreasi-kreasi mereka,” tegasnya. (*)

