AKARMERDEKA, JAKARTA – Kasus meninggalnya Serda Ahmad Muzammil Farisa yang diduga menjadi korban penganiayaan sesama anggota TNI AU mendapat perhatian DPR. Peristiwa yang terjadi di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, itu dinilai menjadi alarm serius bagi pembenahan budaya senioritas di tubuh militer.
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan senioritas segera dihentikan. Menurutnya, hubungan antarprajurit seharusnya dibangun dengan rasa saling menghormati, bukan melalui tekanan atau tindakan fisik.
“Tradisi buruk berupa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh senior, komandan, atasan maupun senior atasan di lingkungan TNI harus segera dihilangkan,” ujar TB Hasanuddin kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
Ia menegaskan, prajurit TNI dibentuk untuk menghadapi tugas pertahanan dan situasi berat di medan operasi. Karena itu, kekompakan serta kerja sama antarprajurit jauh lebih penting dibandingkan praktik senioritas yang berujung kekerasan.
“Sebagai prajurit, seseorang dipersiapkan untuk bertempur. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menjalankan komando dan perintah, tetapi juga kerja sama yang baik antarprajurit,” katanya.
Komandan Diminta Lebih Peka
TB Hasanuddin menilai suasana di lingkungan militer harus diisi dengan hubungan yang sehat dan saling mendukung. Ketegangan yang dibiarkan berlarut-larut, kata dia, bisa memicu tindakan brutal hingga berujung pada hilangnya nyawa.
“Di lapangan diperlukan keakraban dan hubungan yang baik satu sama lain, bukan ketegangan yang justru dapat memicu tindakan kekerasan, seperti pemukulan hingga menyebabkan kematian,” ujarnya.
Politikus PDIP itu juga meminta para komandan di setiap jenjang, mulai dari komandan peleton hingga komandan kompi, lebih memahami kondisi prajurit yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Menurutnya, komunikasi antara atasan dan bawahan harus dibangun secara terbuka. Dengan begitu, persoalan di lapangan bisa diketahui lebih awal dan tidak berkembang menjadi konflik yang membahayakan.
“Para komandan, baik komandan peleton maupun komandan kompi, harus memperhatikan dan memahami kehidupan prajurit di lapangan. Hubungan antara komandan dan bawahan harus dibangun dengan baik sehingga tercipta lingkungan yang sehat dan saling menghargai,” jelas TB Hasanuddin.
Penyelidikan Harus Terbuka
Terkait kematian Serda Ahmad Muzammil, TB Hasanuddin mendesak agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan transparan. Langkah tersebut dinilai penting untuk membongkar rangkaian kejadian serta memastikan penyebab kematian korban.
“TNI AU perlu melakukan penyelidikan secara mendalam untuk mengetahui secara jelas apa yang sebenarnya terjadi,” tegasnya.
Ia juga meminta setiap personel yang terbukti melakukan kekerasan atau melanggar aturan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Hukuman tegas, menurutnya, diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Pelaku harus ditindak tegas dan dihukum seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar memberikan efek jera kepada yang lain,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana membenarkan bahwa kasus tersebut sedang ditangani. Pemeriksaan dilakukan oleh Pusat Polisi Militer Angkatan Udara atau POM AU.
“Benar dan saat ini dalam proses pemeriksaan dari POM AU terkait hal tersebut,” kata Nyoman saat dihubungi. (*)

