Dapur Marhaen PDIP: Bukan Sekadar Bagi Makan, tapi Ruang Rakyat Kecil Merasa Didengar

R. Izra
3 Min Read
RUANG SOSIAL - Warga dari berbagai lapisan sosial antusias menyambut kehadiran Dapur Marhaen, di Kantor DPD PDIP Jateng, Minggu (10/5/2026). Dapur Marhaen digelar serentak tiap tanggal 10 di seluruh kantor PDIP di Jawa Tengah. (dul)

AKARMERDEKA, SEMARANG – Di tengah situasi ekonomi yang makin berat bagi masyarakat kecil, program PDI Perjuangan Jawa Tengah lewat Dapur Marhaen menghadirkan sesuatu yang sederhana, tapi terasa nyata: makan gratis dan perhatian untuk wong cilik.

Bukan acara mewah. Tidak penuh seremoni. Tapi sejak pagi, warga mulai berdatangan. Ada pengemudi ojek online, tukang becak, buruh harian, sampai pemulung. Mereka datang membawa kebutuhan yang sama: makan, berobat, dan sekadar merasa diperhatikan.

Di balik antrean itu, tersimpan cerita hidup yang keras. Yanto (51), pencari rosok yang sehari-hari mengumpulkan barang bekas untuk dijual kembali, mengaku kegiatan seperti ini sangat membantu di tengah penghasilan yang tak menentu.

Baca Juga: Komisi IX Minta Dapur MBG Penyebab Keracunan Massal Ditutup Permanen

“Kalau enggak ada kegiatan begini ya saya cari rosok keliling,” ujarnya pelan, Minggu (10/5/2026).

Penghasilannya kadang hanya cukup untuk bertahan sehari. Belasan ribu rupiah yang didapat dari menjual barang bekas sering kali harus dibagi untuk kebutuhan rumah tangga.

Karena itu, baginya, sepiring makan gratis bukan soal gratisnya semata. Tapi soal ada yang peduli.

“Lumayan, makan dapat, jadi bisa membantu,” katanya sambil tersenyum.

Hal serupa dirasakan Al-Muthohar (67), pemulung lansia yang ikut datang ke lokasi Dapur Marhaen. Di usianya yang tidak muda lagi, ia masih harus memungut botol plastik dan barang bekas demi menyambung hidup.

“Kalau bisa tiap hari, Mas,” katanya jujur.

Baca Juga: Kader Banteng Antusias, Seleksi Ketua PAC PDIP se-Jateng Dibanjiri Ribuan Peserta

Kalimat sederhana itu justru menggambarkan kondisi yang lebih besar: masih banyak masyarakat kecil yang hidup dalam ketidakpastian, bahkan untuk urusan makan sehari-hari.

Tak hanya menyediakan makanan, program ini juga menghadirkan layanan pengobatan gratis. Bagi warga seperti Al-Muthohar, akses kesehatan sering menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.

“Orang sakit bisa periksa gratis, itu membantu sekali,” ujarnya.

Program Dapur Marhaen memang terlihat sederhana. Tapi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, langkah seperti ini menjadi bentuk kehadiran nyata di level bawah—langsung menyentuh warga yang sering kali luput dari perhatian.

Di saat banyak program sosial berhenti pada slogan dan pencitraan, pendekatan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat justru terasa lebih relevan.

Bagi sebagian orang, mungkin hanya sepiring nasi hangat. Tapi bagi warga kecil yang hidup dari penghasilan harian, itu bisa berarti rasa tenang untuk hari ini. (*)

Share This Article