AKARMERDEKA, JAKARATA – Persoalan lemahnya institusi dan efisiensi bisnis di Indonesia menjadi sorotan lembaga pemeringkat dunia.
Posisi daya saing Indonesia kembali merosot di tingkat global. Dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026, Indonesia berada di peringkat 58 dari 70 negara dan ekonomi, turun drastis dari posisi 40 pada 2025 dan jauh di bawah peringkat 27 yang diraih pada 2024.
Laporan yang diterbitkan IMD World Competitiveness Center, Swiss, itu menunjukkan Indonesia tertinggal dari sejumlah negara ASEAN, seperti Malaysia (15), Vietnam (27), dan Thailand (45). Sementara lima besar dunia ditempati Singapura, Hong Kong, Swiss, Taiwan, dan Uni Emirat Arab.
Baca Juga: Menanti Putusan MSCI, Investor Menunggu Kepastian Kebijakan Pemerintah
Penurunan Indonesia terutama dipicu melemahnya efisiensi pemerintahan, efisiensi bisnis, dan kualitas infrastruktur.
Faktor Government Efficiency turun tajam dari peringkat 14 pada 2024 menjadi 50 pada 2026. Sementara Business Efficiency merosot dari posisi 23 menjadi 38, sedangkan Infrastructure turun dari peringkat 52 menjadi 58. Hanya Economic Performance yang relatif bertahan di posisi 24.
Sejumlah indikator juga menunjukkan Indonesia masih tertinggal. Produktivitas berada di peringkat 53, praktik manajemen di posisi 55, sektor keuangan di peringkat 51, dan pendidikan terpuruk di posisi 63 dari 70 negara. Infrastruktur ilmiah dan teknologi juga masih berada di kelompok bawah.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki beberapa keunggulan, seperti aspek harga yang berada di peringkat 10 dunia, perpajakan di posisi 12, pasar tenaga kerja di peringkat 21, serta ekonomi domestik di posisi 24.
IMD juga mengidentifikasi sejumlah tantangan utama Indonesia pada 2026, mulai dari ancaman konfrontasi ekonomi global terhadap keamanan energi, pertumbuhan ekonomi yang stagnan, keterbatasan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia, hingga sempitnya ruang pembiayaan pembangunan.
Baca Juga: Danantara Bisa Sedot APBN, Pengamat: Gerus Kredibilitas Negara dan Kepercayaan Investor
Direktur IMD World Competitiveness Center, Arturo Bris, menegaskan bahwa daya saing ekonomi saat ini tidak lagi ditentukan oleh besarnya pasar atau rendahnya biaya produksi. Menurutnya, yang paling menentukan adalah kredibilitas institusi.
“Daya saing kini menjadi kontes mengenai kredibilitas institusi,” ujarnya.
Bris menambahkan, pelaku usaha akan lebih percaya berinvestasi di negara yang memiliki kepastian hukum, kontrak yang ditegakkan, korupsi yang terkendali, serta tata kelola pemerintahan yang transparan dan dapat diprediksi.
Temuan IMD menunjukkan persoalan utama Indonesia bukan lagi sekadar menjaga stabilitas ekonomi makro. Tantangan yang lebih besar justru berada pada kualitas institusi, efektivitas birokrasi, efisiensi dunia usaha, infrastruktur, dan kualitas sumber daya manusia, faktor-faktor yang menjadi fondasi daya saing jangka panjang di tengah persaingan global yang semakin ketat. (*)

