AKARMERDEKA, NTT – Gempa besar yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tak cuma meninggalkan kerusakan rumah dan fasilitas umum. Dunia pendidikan ikut kena imbas, dengan puluhan sekolah terdampak dan aktivitas belajar berpotensi terganggu.
Kondisi ini membuat pemerintah didorong bergerak lebih cepat. Pemulihan sekolah dinilai tak bisa menunggu sampai seluruh situasi pascabencana benar-benar normal, karena anak-anak tetap membutuhkan tempat belajar yang aman.
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta pemerintah segera memetakan kondisi sekolah sekaligus nasib guru dan siswa yang terdampak. Menurutnya, data yang cepat dan akurat bakal menentukan seberapa tepat bantuan bisa digelontorkan.
“Kerusakan sekolah harus segera dipetakan secara menyeluruh, termasuk kondisi bangunan, sarana pembelajaran, guru, dan peserta didik,” ujar Hetifah dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).
87 Sekolah Terdampak
Berdasarkan data sementara BNPB hingga Sabtu (15/8/2026) sore, sedikitnya 87 satuan pendidikan dari jenjang SD hingga SMA/SMK terdampak gempa.
Hetifah mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak berlama-lama dalam proses rehabilitasi maupun rekonstruksi sekolah yang mengalami kerusakan.
Namun, perbaikan bangunan bukan satu-satunya pekerjaan rumah. Selama sekolah belum bisa digunakan, pemerintah diminta menyiapkan ruang belajar sementara bagi siswa, terutama mereka yang kini berada di lokasi pengungsian.
“Akses pendidikan tidak boleh terputus karena sekolah rusak atau lokasinya jauh dari tempat pengungsian,” tegasnya.
Menurut Hetifah, anak-anak harus tetap punya ruang yang aman untuk belajar sekaligus bermain meski sedang berada dalam situasi bencana.
Bukan Cuma Gedung yang Dibenerin
Pemulihan sekolah juga diminta menyentuh berbagai fasilitas penunjang pembelajaran. Meja, kursi, perangkat belajar, hingga kebutuhan siswa harus ikut dihitung dalam proses penanganan.
“Kita jangan hanya membangun kembali bangunan sekolahnya. Perangkat pembelajaran dan kebutuhan siswa juga harus dipastikan tersedia,” kata Hetifah.
Selain fasilitas fisik, dukungan psikososial juga dinilai penting. Anak-anak yang berada di wilayah terdampak gempa berpotensi mengalami tekanan setelah menghadapi situasi darurat dan kehilangan rasa aman.
Karena itu, proses pemulihan pendidikan di NTT diharapkan berjalan menyeluruh, bukan sekadar mengejar sekolah kembali berdiri.
Gempa M 7,7 Guncang NTT
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) dini hari. Pusat gempa berada di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Dampaknya terasa di sejumlah wilayah dan memicu kerusakan berbagai fasilitas. Pemerintah kini masih melakukan penanganan darurat sekaligus mendata dampak bencana.
Hetifah menegaskan, pemulihan pendidikan perlu masuk dalam prioritas penanganan pascagempa. Sebab, semakin cepat sekolah kembali berfungsi, semakin kecil pula risiko anak-anak kehilangan waktu belajar terlalu lama. (*)

