AKARMERDEKA, JAKARTA – Pejuang demokrasi yang gigih, pemikir yang kritis, dan intelektual organik yang konsisten membela kepentingan publik. Kalimat yang ringkas itu tak cukup untuk menjelaskan sepak terjang Airlangga Pribadi Kusman. Namun, bisa menjadi penanda arah perjuangan dosen Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.
Wafatnya Airlangga Pribadi Kusman –yang akrab disapa Mas Angga– menyisakan kehilangan mendalam dunia intelektual di Indonesia. Angga meninggal dunia setelah terkena serangan jantung mendadak pada Rabu (9/9/2026).
Bagi pembela demokrasi, wafatnya Angga seperti kehilangan sosok pendekar pilih tanding. Hal ini juga dirasakan keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyebut Airlangga bukan sekadar akademisi yang produktif. Ia dikenal sebagai intelektual kritis yang tekun membedah persoalan demokrasi, keadilan sosial, ekonomi-politik, sekaligus pemikiran Bung Karno.
Baca Juga: Megawati-Hemas Buka Pameran Mata Hati Soekarno, Hadirkan Bung Karno di Tengah Krisis Bangsa
Ya, Angga sangat tekun berikhtiar membumikan Marhaenisme yang dicetuskan Bapak Proklamator RI, Sukarno. Keberpihakan Angga kepada jelata tak perlu diragukan lagi.
“PDI Perjuangan sangat berduka atas berpulangnya Mas Airlangga Pribadi Kusman. Indonesia kehilangan seorang intelektual yang memiliki keberanian berpikir, ketekunan akademik, dan kepedulian yang sangat kuat terhadap persoalan rakyat, demokrasi, serta masa depan Indonesia,” kata Hasto di Jakarta, Rabu.
Namun, yang membuat sosok Airlangga memiliki tempat khusus dalam tradisi intelektual PDIP adalah kegigihannya menggali kembali pemikiran Bung Karno.
Bagi Mas Angga, menurut Hasto, Bung Karno tidak boleh berhenti sebagai nama besar dalam buku sejarah, gambar di dinding, atau sekadar simbol kebangsaan. Gagasan Bung Karno harus dibaca ulang, diuji, diperdebatkan, lalu dibawa untuk menjawab persoalan zaman.
Marhaenisme bukan romantisme masa lalu
Hasto mengenang Airlangga sebagai intelektual yang memiliki kegelisahan kuat untuk membuat pemikiran Bung Karno tetap hidup. Marhaenisme, bagi Airlangga, bukan sekadar jargon politik. Di dalamnya ada gagasan pembebasan rakyat, keadilan sosial, nasionalisme, internasionalisme, dan perjuangan melawan berbagai bentuk ketidakadilan.
“Mas Angga mengingatkan kembali tentang falsafah pembebasan rakyat Marhaen sebagai praksis terpenting ideologi Pancasila,” ujar Hasto.
Gagasan tersebut kemudian dituangkan Airlangga bersama Rocky Gerung melalui buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z.
Pilihan judul itu bukan tanpa alasan. Ada kegelisahan untuk mempertemukan gagasan lama dengan generasi baru. Sebab, anak muda Indonesia tidak cukup hanya mengenal Bung Karno melalui foto, nama jalan, atau potongan pidato.
Mereka perlu memahami cara berpikirnya. Memahami cara berpikir Bapak Bangsa.
Baca Juga: PDIP Minta BGN Ungkap Kader Terlibat Pengelolaan MBG, Pengamat: Serius Jaga Integritas
“Saya melihat ada pesan yang sangat kuat dari Mas Angga: anak-anak muda jangan hanya mengenal Bung Karno dari foto, nama jalan, atau potongan-potongan pidatonya,” kata Hasto.
Menurutnya, pemikiran Bung Karno harus menjadi pisau analisis untuk membaca persoalan generasi hari ini. Di sinilah pentingnya kerja intelektual Airlangga.
Ia tidak sekadar menghidupkan kembali nostalgia terhadap Bung Karno. Ia mencoba membawa Marhaenisme keluar dari ruang romantisme sejarah dan kembali berhadapan dengan realitas rakyat.
Dari Blitar hingga Megawati Institute
Hasto juga mengenang perjumpaan intelektualnya dengan Airlangga di Blitar, Jawa Timur, pada pertengahan Juni 2026. Keduanya menjadi narasumber Seminar Nasional “Membumikan Pancasila” yang digelar di halaman Museum Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno.
Pertemuan itu menjadi salah satu diskusi yang membekas bagi Hasto. Di kota yang memiliki jejak kuat sejarah Bung Karno tersebut, keduanya membicarakan bagaimana Pancasila dan Marhaenisme harus kembali hadir menjawab persoalan nyata rakyat.
“Mas Angga begitu bersemangat ketika membedah Bung Karno. Bukan dengan romantisme masa lalu, tetapi dengan perspektif akademik dan keberpihakan yang sangat jelas kepada wong cilik,” tutur Hasto.
Pertemuan intelektual itu kembali berlanjut di Megawati Institute pada akhir Juli 2026. Pembahasannya tetap sama: Marhaenisme dalam gagasan Soekarno tentang negara gotong royong.
Airlangga juga mengurai Pancasila 1 Juni sebagai rangkuman pemikiran Bung Karno tentang kemerdekaan yang tidak berhenti pada kemerdekaan politik.
Kemerdekaan, dalam perspektif tersebut, harus menyentuh persoalan sosial, ekonomi, bahkan ekologis.
Gagasan Angga tak boleh ikut mati
Kepergian Airlangga menyisakan pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar mengenang seorang akademisi.
Gagasannya harus terus diuji. Buku-bukunya harus dibaca. Pemikirannya harus didiskusikan. Bahkan kritik terhadap gagasannya pun harus terus dilakukan.
Sebab, intelektual tidak seharusnya dikenang hanya melalui ucapan belasungkawa.
Hasto berharap karya-karya Airlangga, terutama yang berkaitan dengan Marhaenisme dan pemikiran Bung Karno, terus dibaca mahasiswa serta generasi muda.
“Cara terbaik menghormati seorang intelektual adalah menjaga agar gagasannya terus hidup. Bacalah karya-karya Mas Angga, diskusikan, kritik, dan kembangkan,” ujar Hasto.
Pesan itu menjadi penting di tengah politik yang sering kali terlalu sibuk mengejar kekuasaan, tetapi miskin perdebatan gagasan.
Airlangga meninggalkan jejak berbeda. Ia memilih jalan intelektual: menggali pemikiran, mempertanyakan keadaan, dan mencari relevansi gagasan Bung Karno untuk menjawab persoalan rakyat hari ini. (*)

