AKARMERDEKA, JAKARTA — Rupiah kembali tersungkur. Ini bukan sekadar pelemahan biasa. Nilai tukar mata uang Indonesia resmi mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah setelah menyentuh level Rp18.068 per Dolar AS pada Kamis (4/6/2026) sekitar pukul 15.13, berdasarkan data Google Finance.
Angka ini bukan sekadar statistik pasar. Ini alarm keras tentang kepercayaan yang runtuh, daya beli yang tergerus, dan ekonomi yang makin kehilangan pijakan.
Di pasar, rupiah terus dipukul tanpa ampun. Bank Indonesia sudah turun tangan melakukan intervensi, tetapi dolar AS tetap terlalu perkasa untuk dibendung.
Baca Juga: Ganjar Sentil Sikap Elit Parpol: Revisi UU Pemilu Jangan Diserahkan ke Pemerintah
Sementara publik mulai merasakan dampaknya secara nyata, harga kebutuhan pokok bergerak naik, biaya impor membengkak, dan tekanan hidup kelas menengah makin berat.
Di tengah situasi itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo melontarkan kritik melalui 7 manifesto yang ia unggah di akun media sosial resmi miliknya di Instagram dan Threads, @ganjar_pranowo.
Ganjar mengunggah tangkapan layar berita pelemahan Rupiah dengan satu kalimat pendek namun keras: “Segera kembalikan kepercayaan publik!”
Tujuh poin yang disampaikan Ganjar terdengar seperti daftar pekerjaan rumah pemerintah yang belum selesai:
- Kembalikan personel lembaga negara pada fungsi utamanya
- Meritokrasi birokrasi berbasis kompetensi
- Hemat sebenar-benarnya dari pusat sampai daerah tanpa kecuali
- Genjot ekspor dengan regulasi dan kelembagaan yang fair
- Penegakan aturan yang tegas dan setara
- Pers yang bebas
- Warga negara yang bebas dari rasa takut
Pesan itu langsung memantik respons luas di media sosial. Banyak warganet melihat manifesto tersebut sebagai kritik terhadap arah kebijakan ekonomi dan politik yang dinilai semakin menjauh dari rasa aman publik.
Akun Instagram @azizah.hanum_lpw menyoroti ancaman terbesar justru mengintai kelas menengah.
“Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, yang paling tertekan itu kelas menengah. Mereka terlalu kaya untuk dibantu, tapi belum cukup kaya untuk aman,” tulisnya.
Komentar lain datang dari akun @david_simamora yang menyoroti program-program pemerintah yang dianggap menguras anggaran negara.
“Segera hapus kebijakan bakar uang kayak MBG, Kopdes, dan lain-lain agar market pulih lagi Pakde,” tulisnya.
Sementara itu, pemerintah mencoba meredam kepanikan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pelemahan Rupiah akan berdampak pada pembayaran bunga utang luar negeri pemerintah.
Namun ia mengklaim kondisi tersebut masih dalam perhitungan pemerintah.
“Kuponnya sih constant. Cuma pada waktu rupiah melemah, meningkat dalam rupiah pembayarannya. Tapi masih dalam range perhitungan kita,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen Senayan.
Baca Juga: Kertajati Mau Disulap Jadi Bengkel Pesawat Militer AS, Pakar Peringatkan Risiko Pertahanan
Masalahnya, pasar tidak bergerak berdasarkan rasa optimistis pejabat. Pasar bergerak berdasarkan kepercayaan. Dan saat Rupiah terus longsor, investor asing kabur, serta harga minyak dunia melonjak akibat konflik Timur Tengah, publik mulai sulit diyakinkan bahwa keadaan masih aman terkendali.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap Rupiah. Harga minyak yang tinggi meningkatkan risiko inflasi global dan mendorong arus modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia.
Namun faktor global bukan satu-satunya persoalan. Di dalam negeri, kebutuhan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen juga terus menguras cadangan devisa.
Dampaknya perlahan mulai terasa di meja makan rakyat.
Pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, mengingatkan bahwa pelemahan Rupiah akan langsung memukul harga kebutuhan pokok, terutama komoditas impor seperti kedelai.
“Harga tahu dan tempe bisa naik karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih impor,” katanya.
Dan ketika tahu-tempe mulai ikut mahal, itu artinya krisis sudah tidak lagi sekadar angka di layar monitor pasar uang. Ia sudah masuk ke dapur rakyat. (*)

